“Hujan Telah Berhenti”
‘Aku membenci hujan karena hujan adalah airmata, karena hujan adalah
kesedihan langit, karena hujan membuat aku tersenyum dan menangis bersamaan,
karena hujan menyembunyikan diriku, karena hujan adalah hal yang sangat dia kagumi’
21 maret 2016
Pria itu terlelap dalam
kedamaian, dengkuran halus samar-samar terdengar dari bibirnya yang sedikit
menyunggingkan senyum. Kebahagian terpatri dengan jelas di wajahnya. Lengan
kekarnya melingkar possesif pada tubuh mungil di sampingnya, menyimpannya dalam
dekapan erat pada dada bidangnya yang tertutupi kaos putih polos.
Terusik dengan cahaya yang mulai
masuk dari celah korden yang sedikit tersingkap, dua tubuh yan saling
berdekapan tersebut perlahan begerak. Kedua retina sedikit menyipit mendapati
cahaya yang terlalu silau untuk mata yang baru saja terbuka dari lelapnya.
“Arrrrrggghhh, matikan lampunya.
Aku ngantuk tahu, tidak tahu apa besok aku ada wawancara kerja. Kalau telat
gimana?. Kao cepat matiin. ugh”
Omel sosok kecil yang merasa
tidurnya terganggu dengan cahaya yang masuk ke kamar. Sang pria berusaha bangun
dari posisi tidurnya, sedikit menyesuaikan irisnya dengan cahaya dia membuka
matanya perlahan. Tersadar matahari sudah meninggi pria itu segera melihat jam
weaker yang setia di atas meja, angka 07.45 tertera di sana. Oh astaga tidakkah
manusia di sampingnya ini memiliki acara yang dia bilang penting, tapi masih
setia bergelung dalam selimut.
“Kau bilang apa? besok? besokmu
itu udah sekarang tahu. cepat bangun sana! hey tukang tidur”
Berusaha membangunkan manusia
mungil di sampingnya dengan berbicara di dekat telinga dan menggoyangkan tubuh
mungil itu pelan. Merasa tidak ada pergerakan, Kao nama pria itu mencoba
menarik selimut wanita yang ia klaim tukang tidur itu paksa dengan sekali
hentakan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah tubuh mungil dalam selimut
berguling jatuh ke lantai.
“Kyaaaa….sakit. Kao apa yang kau
lakukan. Kau menganggu tidurku”
Kao hanya nyengir kemudian menunjukkan
jam weaker ke hadapan wanita mungil yang masih berngantuk ria.
“Pertemuan yang katamu akan kau
hadiri bukankah jam 08.00 pagi, kau lihat jam berapa sekarang ? Cepat berdiri
dan bersiap-siap”
Wanita mungil ini masih
mengucek-ngucek matanya yang terlihat masih mengantuk. Setelah di rasa bisa di
gunakan untuk melihat, matanya langsung di gunakan untuk melihat jam weaker
yang di tunjukan oleh pria di depannya. Sedikit menyipit kemudian berusaha
mencerna kalimat yang juga di ucapkan oleh pria di depannya.
1… Masih lemot mikir
2… Retinanya mulai terbuka lebar
3… Dan….
“HUUAAAAA…..KAO KENAPA KAU TAK
MEMBANGUNKAN AKU HAA!!! INI 15 MENIT LAGI. HUAAA”
Sreeettt,Braakkk,Bugh. Hadiah
yang di berikan sang wanita di pagi hari. Tendangan kuat yang mengarah ke perut.
Ah…. itu adalah kebiasaan si wanita. Bisa di bilang salam cinta.
“Awww, bisakah kau hilangin
kebiasaanmu menghajar orang di pagi hari. sakit tahu!!”
Kao mengaduh saat merasakan
tendangan di perutnya, pelakunya hanya masa bodoh dan bergegas ke kamar mandi
karena deadline yang akan di laksanakan 15 menit lagi.
Ini salahnya, salah si bodoh
kepala besar itu. Coba saja dia tidak mengajak taruhan siapa yang paling kuat
bertahan bergadang, gak akan begini jadinya. sial,sial, sial dasar Kao bodoh.
Gadis itu masih sempat mengomel
dalam hatinya.
++++
Alexander Kao adalah pria berusia
29 tahun, seoarang dokter muda yang berbakat, punya banyak prestasi, dan yang
oh so wow adalah wajah tampan nya dengan garis rahang yang tegas yang bikin
banyak siti hawa tak bisa mengedipkan mata. Postur tubuh yang atletis menambah
kesan maskulin padanya. Namun, dari sekian banyak wanita yang berlomba-lomba
untuk dapat berada dalam hati pria ini, hanya satu yang mampu memenangkannya
yaitu wanita yang lebih muda 6 tahun darinya yang sekarang telah resmi menjadi
nyonya alexander.
“KAOOO, cepat anterin aku!”
15 menit adalah waktu yang
terlalu singkat untuk seseorang yang baru saja bangun tidur untuk bersiap pergi
ke tempat kerja, maka dengan persiapan seadanya-baca: gosok gigi, cuci muka,
ganti pakaian formal dan mambawa CVnya- nyonya Alexander dengan tergesa-gesa
berangkat ke calon tempat kerjanya.
Kawasaki Ninja 250R Fi terparkir
indah di dapan halaman rumah keluarga Alexander dengan sopir yang menaikinya
terlihat gagah dengan setelan jaket kulit hitamnya. Senyum atau lebih tepatnya
di katakan seringai terpasang pada wajah tampannya. Dengan gaya bak seoarang
pembalap ia melirik istrinya.
“Siap tuan putri. Tidak bisakah
tuan putriku ini meminta dengan tidak berteriak ?hmm”
“WHAT!. Oh oke sekarang kau mau
aku mati kena serangan jantung dengan menaiki ‘itu’ bersamamu ? no no no lebih
baik aku berangkat sendiri. Bye K-A-O
“
“Hey kau mau kemana tuan putri,
tuan putriii….”
Kao terpaksa membiarkan ‘tuan
putrinya’ berangkat menggunakan taxi, karena istri tercintanya tersebut tidak
percaya-ralat-tidak akan pernah percaya bahwa dirinya dapat mengendarai motor.
Meski ada raut kekecewaan pada wajahnya tapi dia tetap tersenyum, yaa begitulah
sifat istrinya. Dia akhirnya kembali memasukkan motornya ke dalam bagasi
kemudian kembali kedalam rumah dan mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaanya
sebagai dokter.
Bisa di bilang meraka adalah
keluarga yang romantis (tapi romantisnya di mana yaaa, penulis juga sebenernya
gak tahu, hehehe).
====================================+++++++==========================================
‘Aku mengagumi dan menyukai hujan. Langit menjadi teduh dan damai dengan music yang tercipta dari rintikannya.
Aku menyukai suara percikan airnya yang menyentuh bumi, menyukai rasa dingin
yang timbul setelah terguyur, dan meleburkan rinduku bersama air yang mengalir
pada dirinya’
21 maret 2015
Bukan ada pertunjukan atau
pameran yang sedang di gelar, bukan pula ada sebuah pesta yang di adakan di
kediaman kami. Bahkan aku baru saja mendapat kabar, ada seseorang di sana yang sedang
terbaring sakit. Aku baru saja sampai di depan pagar, ketika melihat
orang-orang berpakaian serba hitam keluar masuk di kediaman ini, rumah keluarga
Petrick. Aku masuk ke dalam rumah seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa
tentang apa yang sedang terjadi. Bingung karena melihat orang-orang itu tidak
sedikit yang menangis, aku segera masuk ke dalam rumah untuk menanyakannya.
“Anakku yang sabar ya, cepat
temui ayahmu”
Bibi Arumi, adik dari ibuku. Dia
menepuk pundakku pelan, kemudian memelukku. Aku bertanya-tanya apa gerangan
yang bisa membawa bibi Arumi yang rumahnya begitu jauh mengunjungi kami, yang
ku tahu sudah beberapa tahun bibi ini
tidak pernah lagi mengunjungi kami. Selain pertanyaan itu sebernarnya yang
paling ingin ku tanyakan adalah apa maksut perkataannya dan kenapa aku melihat
bibi baru saja menangis. Aku menurutinya untuk segera menemui ayahku, yang kata
ibu sedang terbaring sakit tadi di telephon. Aku baru ingat mungkin karena ayah
sedang sakit sehingga bibi menjenguknya ke sini, masuk akal. Ah mungkin
penyakit darah tinggi ayah kambuh lagi, huh dasar ayah mungkin dia mengkonsumsi
daging lagi. Akan ku marahi dia nanti setelah bertemu.
Tidak butuh waktu lama untuk
berjalan ke ruang utama, aku sudah di depan pintu soji yang menghubungkan aku
dengan ruang utama di dalam. Pertama yang ku lihat setelah membuka pintu adalah
seseorang yang sedang memberi penghormatan terakhir pada…
‘Kakek ? dan orang yang sedang
memberi penghormatan itu adalah paman Jack, dan ibu, kakak, bahkan kakak ipar ?
kenapa mereka berdiri berjajar dengan pakaian hitam. Dan di samping mereka,
bukankah itu bunga yang di peruntukan bagi seseorang yang telah meninggal dunia
?’
“Ibu…. di mana ayah?”
Aku melihat sekeliling dan tidak
melihat keberadaan ayah di mana-mana. Apa ayah sedang berada di rumahsakit ? ku
rasa tidak mungkin sedangkan ibu berada di sini. Ibu hanya menatapku sendu saat
aku bertanya seperti itu, tidak terlalu lama kemudian ibu menunduk dan
terdengar isakan dari bibirnya. Aku tidak mengerti apa yang membuat ibuku bisa
sampai menangis seperti itu.
“Ibu, apa yang….”
Ibu melirik sebuah peti di depan
paman Jack, aku tidak dapat melanjutkan kalimatku ketika aku melihat di dalam
peti tersebut. Ayah sedang terbaring di sana, mengenakan pakaian terbaiknya
dengan wajah damai dan senyuman. Tidak aku pungkiri, ayah terlihat jauh lebih
tampan dari biasanya. Aku tersenyum melihat ayah yang semakin tampan. Dia
adalah ayahku yang paling ku cinta di dunia ini, orang yang sangat berharga
selain ibu. Ah kalo di bilang sih aku lebih dekat dengan ayah di banding dengan
ibu.
‘Ayah tahu? ayah hari ini
terlihat sangat tampan. Ayah tidur sangat nyenyak, tapi apa ayah tidak mau
melihat putri bungsu ayah yang cantik ini ? Ayo bangun ayah’
Aku ingin segera memeluk ayah,
dan mendapatkan kata-kata yang selalu menjadi kesukaanku “putri kecil ayah yang
cantik sedang bahagia ya hari ini, apa karena ayah ?”. Meskipun aku bukan anak
kecil lagi aku selalu di perlakukan ayah seolah aku masih putri kecilnya yang
dulu. Hal itulah yang ku sukai dari ayah. Aku menghampiri ayah, memegang
tangannya berusaha membangunkannya. Tangan ayah sangat dingin dan begitu pucat.
“Apa yang kau lakukan nak ?”
“Tentu saja menyapa ayah seperti
biasa ibu, dan kurasa aku harus membangunkan ayah untuk menghibur ibu supaya berhenti
menangis. Ibu itu aneh, kenapa mnangis tanpa sebab ?”
Aku masih memegang tangan ayah
dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sudah beberapa kali aku memanggil ayah, tapi
ayah masih saja bergeming. Aku tidak mengerti, kenapa ayah tidur lelap sekali.
Aku tidak mengerti, kenapa kedua mataku menjadi panas. Aku tidak mengerti,
kenapa ada rasa sakit yang terasa di hatiku. Aku menangis, Ibu.
“Ayahmu…sudah pergi ke surge nak”
Suara parau ibu terdengar seperti
halilintar dalam pendengaranku. Sesaat seperti hujan sedang turun dalam hatiku.
Aku teringat sebuah cerita fiksi yang sering di bacakan ayah sewaktu kecil
dulu, seorang putri yang selalu ceria yang sangat menyayangi ayahnya. Suatu
saat ayah sang putri harus meninggalkan dunia, dan meninggalkan sang putri.
Putri yang selalu ceria tersebut berubah menjadi pendiam dan selalu murung. Ah
aku tidak tahu apa kelanjutan kisah dari cerita ini. Apakah ayah sedang membuat drama dari kisah
ini untuk menunjukkan akhir dari ceritanya ? Ku akui jika darma yang di
perankan oleh keluargaku dan orang-orang yang di sini cukup mengagumkan. Aku
tidak tahu jika keluargaku bisa acting sebagus ini.
prok prok prok prok prok
Aku memberikan tepuk tangan
terbaikku kepada mereka semua. Mereka sudah bekerja keras dan aku harus
menghargai mereka. Tapi ku rasa saatnya mengakhir drama ini karena aku tidak
mau berlama-lama melihat keadaan ayah sepeti seorang yang meninggal. Cukup
sudah aku ingin mendengar suara ayah dan jenaka ayah seperti biasanya.
“Wah, tidak ku sangka kalian
begitu hebat dalam hal acting. Ibu tadi keren banget. Tapi aku rasa sudah cukup
drama nya. Ayah ayo cepat bangun, sudah selesai lo dramanya”
Kakak yang sedari tadi hanya diam
kini memelukku, sudah lama sepertinya aku tidak di peluk dia setelah punya
istri. Ah aku jadi terharu sampai airmataku ini sulit untuk berhenti. Dadaku
sesak kak, apa karena kakak memelukku terlalu erat ?
“Terima kenyataan adikku, ayah
sudah kembali ke surga”
Setahuku aku tidak pernah punya
kelainan jantung, tapi kenapa di dadaku rasanya sakit sekali. Aku sulit
bernafas dan tubuhku mendadak lemah tak bertenaga. Aku masih mendengar ketika
Ibu berteriak memanggil namaku, tapi volume suaranya semakin mengecil dan kenapa
tiba-tiba dunia berubah atmosfer menjadi malam ?….
++++++
Gadis itu bernama Lucia Immanuel
petrick, 23 tahun. Dia anak tunggal dari pasangan suami istri Immanuel dan
Karin petrick. Sejak kecil dia tumbuh dengan limpahan kasih sayang orangtuanya
yang menjadikannya gadis manja meski usianya kini sudah bukan anak kecil lagi.
Di banding dengan ibunya, Lucia sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan saat
usianya menginjak 15 tahun, gadis tersebut masih ingin tidur besama ayahnya.
‘Benar-benar gadis manja’ itu yang selalu di bilang ibunya saat lucia merajuk
minta ditemani ayahnya tidur. Hanya
ayahnya yang bisa membuatnya berhenti menangis saat dia terjatuh waktu masih
anak-anak dulu. Selalu ayahnya yang bisa membuatnya tersenyum lagi saat dirinya
sudah mengenal patah hati karena cinta. Selalu ayahnya yang di andalkannya, Mr.
Immanuel petrick yang kini telah berpulang ke tempat penciptanya.
Gadis itu tidak menemukan
senyumnya lagi setelah kematian ayahnya 2 bulan lalu. Dia tidak pernah lagi
membuka suaranya selama dua bulan itu dan tidak pernah melakukan apapun.
Dirinya tampak seperti patung yang bernafas dengan selang infus dan oksigen
sebagai penopang hidupnya.
“Lucia..Ibu mohon…, jangan terus seperti ini.”
=============================================+++=====================================
‘Aku menemukanmu, di bawah langit yang sedang menangis. Mengguyur
badanmu yang ringkih dan terlihat tak berdaya. Aku menatap wajahmu yang
menengadah dan saat itu aku tahu bahwa kau sedang menangis. Aku iba, dan
membawaku berjalan meraih bahumu. Tolong jangan pernah menangis lagi’
21 Mei 2015
“Bagaimana keadaannya dokter, putri
saya, Lucia tidak terjadi hal buruk kan?”
Aku mendengar tanpa sengaja
perkataan wanita setengah baya itu saat aku melewati ruangan dokter seniorku, wanita
tersebut adalah ibu dari pasien yang bernama Lucia. Sudah dua bulan dia di
rawat di sini dan kondisinya memprihatinkan. Bukan aku memang yang
menanganinya, tapi sebagai sesama dokter pasti tahu keadaan setiap pasien kan
?.
Lucia adalah gadis yang cantik.
Aku pernah beberapa kali mengunjungi ruangannya untuk melihat kondisi
kesehatannya ketika di mintai tolong seniorku. Jika saja dia tersenyum, entah
mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Yang aku dengar dari senior Lucia adalah
pasien dengan gangguan psikis. Lucia tidak pernah melakukan hal apapun selama
dua bulan ini kecuali hanya duduk dan termenung. Tubuhnya ringkih karena
kesehatan yang kian menurun semakin hari. Ah andai aku tahu penyebabnya, aku
akan membantunya untuk menyembuhkannya.
“Senior, boleh saya saja yang
merawat Lucia. Saya ingin membantunya”
Aku mendatangi senior dan
bermaksud untuk menggantikan beliau untuk merawat Lucia. Hatiku tergerak
melihat keadaan gadis itu. Aku ingin merawatnya dan mengobatinya bukan hanya
fisik namun juga hatinya. Mungkin, dengan begitu aku akan merasa lega.
‘Aku melihatmu,di bawah hujan yang begitu deras bersama airmatamu yang
mengalir. Sungguh, aku ingin sekali menghentikan hujan’
“Saya akan berusaha dan menemukan
cara mengobatinya”
“Apa kau yakin kau bisa melakukannya. Pasien
ini sudah dua bulan tidak menunjukkan perkembangan dalam artian baik namun
malah mengalami penurunan. Apa kau snggup ? jika iya aku akan menyerahkannya
padamu. Jujur saja aku sudah lelah di kejar-kejar ibu anak itu untuk menanyakan
perkembangan anaknya.”
“Saya yakin bisa melakukannya”
“Baiklah. Kau bisa ambil catatan
kesehatannya di ruanganku”
Aku bisa melakukannya seperti
keyakinanku yang ku tunjukkan pada senior. Yang pertama harus aku lakukan
adalah menyembuhkan psikisnya. Aku berbicara kepada ibunya mengenai depresi
Lucia, terkejut akan semua yang di katakan ibu yang ku ketahui bernama Ny.Karin
bahwa Lucia seperti ini karena ayahnya sudah tiada. Anak yang begitu menyayangi
ayahnya.
Aku datang menemui Lucia. Dia
hanya bergeming dalam posisi duduk menghadap jendela. Seperti saat itu di bawah
guyuran hujan, airmata yang entah sudah berapa kali terjatuh itu menghiasi
wajahnya. Dan sesaat aku merasakan perasaan seperti ‘itu’ lagi tapi segera ku
tepis dan focus kembali pada tujuan awal datang ke ruangan Lucia. Aku berjalan
mendekat ke arahnya sampai cukup untuk dapat mengobrol dengannya. Dia tetap
bergeming tanpa menoleh, tapi kurasa dia menyadari kehadiranku.
“Lucia….”
Aku memulainya, hal pertama yang
ingin ku lakukan untuk menolongnya adalah mengajaknya berbicara selayaknya
manusia normal lainnya.
‘Debar jantung ini terasa aneh saat aku menatap matamu, jika ini
kelainan jantung pasti aku mengetahuinya karena aku seorang dokter. Tapi aku
merasa asing dengan debaran ini, rasanya tidak sakit namun nyaman’
“Sebelumnya aku akan
memperkenalkan diriku. Aku alexander Kao dokter yang akan menanganimu ke
depannya nanti. Mohon kerjasamanya.”
Lucia kini memejamkan matanya, sedikit
ada respon untuk perkenalanku tadi.
“Ayahmu…”
Aku akan langsung
membicarakannya. Aku tahu dia sangat sensitive jika mendengar kata ayah.
Sengaja aku mengucapkan kata itu untuk menarik perhatiannya. Mungkin dia akan
lebih merespon perkataanku.
“Aku turut berduka cita atas
dirinya. Kau pasti putri yang sangat di sayanginya. Aku yakin sekarang ayahmu
sedang memikirkanmu di surga sana. Bukankah sur-..”
Belum sempat aku menyelesaikan
seluruh kalimatku Lucia lansung menutup telinganya. Isak tangis terdengar
semakin keras.
“Tidak..tidak…TIDAAAAAAKKKKK…Ayahku
ada di rumah, berhenti mengatakan seolah-olah ayahku sudah tiada. KAAAUUUU
ORANG ASING TIDAK BERHAK BERKATA SEPERTI ITU. PERGI..PERGI..PERGIIIIII….”
Dia semakin histeris dan tak
terkendali. Tubuhku bergerak sendiri memeluknya tapi dia berontak. Dia memukul
wajahku dan menggigit tanganku. Sulit di percaya dengan keadaan seperti itu
pukulannya cukup terasa sakit.
“LEPAS, LEPAS, LEPAS, LEPASKAN
AKU”
Lucia semakin meronta dan
memukulku beberapa kali, aku tak bisa menanganinya sendiri aku butuh bantuan.
“SUSTER, YANG DI LUAR. BISA
TOLONG BANTU”
Dua suster sekaligus datang
membantuku memegangi Lucia yang semakin histeris. Terpaksa aku menyuruh salah
satu suster untuk menyiapkan obat bius dan menyuntikkannya ke Lucia. Akhirnya
dia bisa tenang. Awal pendekatan yang buruk ku pikir. Lucia memang benar-benar
sakit psikis.
Selang infus terpasang di tangan
kurus Lucia, terlihat jelas bahwa asupan gizi yang selama ini di serap oleh
tubuh itu hanya berasal dari botol infus. Aku mengamatinya sekian lama, wajah
damai Lucia yang sedang terlelap begitu lembut. Pipi yang sedikit tirus, hidung
mungil yang mancung, bibir tipis dan mata… ah seandainya aku dapat melihat
matanya yang bersinar.
++++
Setelah seharian bekerja dan
mengobati banyak pasien, akhirnya aku dapat beristirat dan menghirup udara
selain bau obat di mana-mana. Aku melepas jas dokterku, menggantungnya di loker
dan menggantinya dengan jaket yang ku miliki. Memastikasn barangku sudah
terbawa semua aku bergegas pulang. Aku benar-benar letih. Dimulai dari
menangani pasien yang terlalu banyak sampai kejadian di pukul oleh pasien
gangguan psikis. Lucia…..Aku belum menjenguknya lagi setelah kejadian tadi
sore, kurasa obat biusnya sudah hilang. Apa yang di lakukannya sekarang ?....
Aku yang sudah sampai di pintu
keluar rumahsakit memutar arah kembali masuk kedalam. Ada yang tidak beres
dengan kakiku yang bergerak sendiri. Ini di luar control sampai membawaku
berlari ke ruang ini, ruang di mana gadis Petrick itu di rawat. Tepat di depan
pintu bertuliskan Tulip no.15 aku berhenti. Jantungku berdebar cepat dan
nafasku tersengal-sengal , mungkin efek dari berlari tadi. Tapi, debaran
jantung ini berbeda, aku tahu itu. Sama seperti yang kurasakan saat pertema
kali melihat gadis itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada jantungku sekarang.
Tidak mempedulikan keadaan jantungku, aku membuka pintu ruang rawat ini
perlahan. Aku cukup terkejut saat tidak
menemukan Lucia di ranjangnya. Namun merasa lega saat menemukan dia duduk di
dekat jendela, mungkin itu kebiasaannya.
“Siapa ?”
Aku bergeming di tempat, benarkah
itu Lucia yang berbicara. Bukankah selam dua bulan ini dia berhenti berbicara.
Ada keajaiban apa sampai dia menyuarakan suaranya yang tertahan selama dua
bulan ini. Bahkan ibunya sendiripun tidak bisa membuatnya berbicara lagi. Namun
aku merasa bersyukur karena Lucia mau
berbicara lagi meskipun hanya beberapa kata.
“Ku bilang siapa?, apa kau tuli
atau tidak bisa berbicara ?”
Dia memalingkan wajahnya
menghadapku dan menatap mataku tajam. Apa ini gadis yang tadi histeris sampai
memerlukan obat bius untuk membuatnya tenang?. Kurasa mustahil, seseorang
dengan keadaan seperti tadi dapat menatapku seperti itu dan bicara normal.
Sungguh aku tidak bisa memikirnya lebih jauh lagi.
“Eh….K-kau sudah bisa berbicara?”
Karena aku terkejut dengan apa yang
di lakukannya barusan membuatku berbicara tergagap. Sungguh konyol, ini bukan
gayaku yang biasanya.
“Kau pikir aku bisu? tentu saja
aku bisa bicara. Aku memang tidak bicara selama dua bulan lebih tapi bukan
berarti aku tidak bisa bicara. Kau ini seorang dokter yan menanganiku kan? apa
tidak bisa mengetahui kondisiku. Oh… aku tahu, mungkin kau hanya dokter magang
yang tidak tahu apa-apa soal pasien. Huh.. kurasa ibu salah memilih rumahsakit
yang mempercayakan pasiennya ke orang seperti ini”
Aku hanya diam mencoba mencerna
kata-kata yang baru saja Lucia lontarkan kepadaku. Kalimatnya terlalu panjang
untuk bisa di cerna orang yang baru terkejut sepertiku. Tadi dia mengatakan seorang
dokter magang, tidak tahu apa-apa tentang pasien, salah memilih rumahsakit,
mempercayakannya pada orang seperti ini. Tunggu… yang dia maksud adalah aku
dokter magang ?.
“A-apa katamu, aku dokter
magang?”
Yang benar saja dia. Tapi aku
sungguh penasaran, keajaiban apa yang membuatnya bisa normal kembali dan aku
sungguh penasaran dengan sifat sesungguhnya gadis ini.
“Kurasa kau sudah mendengarnya
tadi dan aku tidak perlu mengulanginya lagi. Kau tahu setelah dua bulan tidak
mengeluarkan suara dan pertamakalinya berbicara lagi itu terlalu sulit, jadi
jangan buat aku terlalu banyak bicara. Kau mengerti dokter magang?”
Hebat. Dia bilang bicara untuk
pertama kalinya setelah dua bulan tidak mengeluarkan suara terlalu sulit di
lakukan dan meminta untuk tidak membuatnya berbicara panjang. Tapi dia
sendirikan yang berbicara panjang, dan aku tidak pernah menyuruhnya bebicara
terlalu banyak. Dasar perempuan.
‘Mungkin aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi padaku, tapi aku
sedikit tahu saat mendengar suaramu. Kurasa ini adalah perasaan seorang pria
kepada wanita’
=======================================++++==========================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar