Sabtu, 21 Mei 2016

Hujan Telah Berhenti



“Hujan Telah Berhenti”
‘Aku membenci hujan karena hujan adalah airmata, karena hujan adalah kesedihan langit, karena hujan membuat aku tersenyum dan menangis bersamaan, karena hujan menyembunyikan diriku, karena hujan adalah hal yang sangat dia kagumi’
21 maret 2016
Pria itu terlelap dalam kedamaian, dengkuran halus samar-samar terdengar dari bibirnya yang sedikit menyunggingkan senyum. Kebahagian terpatri dengan jelas di wajahnya. Lengan kekarnya melingkar possesif pada tubuh mungil di sampingnya, menyimpannya dalam dekapan erat pada dada bidangnya yang tertutupi kaos putih polos.
Terusik dengan cahaya yang mulai masuk dari celah korden yang sedikit tersingkap, dua tubuh yan saling berdekapan tersebut perlahan begerak. Kedua retina sedikit menyipit mendapati cahaya yang terlalu silau untuk mata yang baru saja terbuka dari lelapnya.
“Arrrrrggghhh, matikan lampunya. Aku ngantuk tahu, tidak tahu apa besok aku ada wawancara kerja. Kalau telat gimana?. Kao cepat matiin. ugh”
Omel sosok kecil yang merasa tidurnya terganggu dengan cahaya yang masuk ke kamar. Sang pria berusaha bangun dari posisi tidurnya, sedikit menyesuaikan irisnya dengan cahaya dia membuka matanya perlahan. Tersadar matahari sudah meninggi pria itu segera melihat jam weaker yang setia di atas meja, angka 07.45 tertera di sana. Oh astaga tidakkah manusia di sampingnya ini memiliki acara yang dia bilang penting, tapi masih setia bergelung dalam selimut.
“Kau bilang apa? besok? besokmu itu udah sekarang tahu. cepat bangun sana! hey tukang tidur”
Berusaha membangunkan manusia mungil di sampingnya dengan berbicara di dekat telinga dan menggoyangkan tubuh mungil itu pelan. Merasa tidak ada pergerakan, Kao nama pria itu mencoba menarik selimut wanita yang ia klaim tukang tidur itu paksa dengan sekali hentakan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah tubuh mungil dalam selimut berguling jatuh ke lantai.
“Kyaaaa….sakit. Kao apa yang kau lakukan. Kau menganggu tidurku”
Kao hanya nyengir kemudian menunjukkan jam weaker ke hadapan wanita mungil yang masih berngantuk ria.
“Pertemuan yang katamu akan kau hadiri bukankah jam 08.00 pagi, kau lihat jam berapa sekarang ? Cepat berdiri dan bersiap-siap”
Wanita mungil ini masih mengucek-ngucek matanya yang terlihat masih mengantuk. Setelah di rasa bisa di gunakan untuk melihat, matanya langsung di gunakan untuk melihat jam weaker yang di tunjukan oleh pria di depannya. Sedikit menyipit kemudian berusaha mencerna kalimat yang juga di ucapkan oleh pria di depannya.
1… Masih lemot mikir
2… Retinanya mulai terbuka lebar
3… Dan….
“HUUAAAAA…..KAO KENAPA KAU TAK MEMBANGUNKAN AKU HAA!!! INI 15 MENIT LAGI. HUAAA”
Sreeettt,Braakkk,Bugh. Hadiah yang di berikan sang wanita di pagi hari. Tendangan kuat yang mengarah ke perut. Ah…. itu adalah kebiasaan si wanita. Bisa di bilang salam cinta.
“Awww, bisakah kau hilangin kebiasaanmu menghajar orang di pagi hari. sakit tahu!!”
Kao mengaduh saat merasakan tendangan di perutnya, pelakunya hanya masa bodoh dan bergegas ke kamar mandi karena deadline yang akan di laksanakan 15 menit lagi.
Ini salahnya, salah si bodoh kepala besar itu. Coba saja dia tidak mengajak taruhan siapa yang paling kuat bertahan bergadang, gak akan begini jadinya. sial,sial, sial dasar Kao bodoh.
Gadis itu masih sempat mengomel dalam hatinya.
++++
Alexander Kao adalah pria berusia 29 tahun, seoarang dokter muda yang berbakat, punya banyak prestasi, dan yang oh so wow adalah wajah tampan nya dengan garis rahang yang tegas yang bikin banyak siti hawa tak bisa mengedipkan mata. Postur tubuh yang atletis menambah kesan maskulin padanya. Namun, dari sekian banyak wanita yang berlomba-lomba untuk dapat berada dalam hati pria ini, hanya satu yang mampu memenangkannya yaitu wanita yang lebih muda 6 tahun darinya yang sekarang telah resmi menjadi nyonya alexander.
“KAOOO, cepat anterin aku!”
15 menit adalah waktu yang terlalu singkat untuk seseorang yang baru saja bangun tidur untuk bersiap pergi ke tempat kerja, maka dengan persiapan seadanya-baca: gosok gigi, cuci muka, ganti pakaian formal dan mambawa CVnya- nyonya Alexander dengan tergesa-gesa berangkat ke calon tempat kerjanya.
Kawasaki Ninja 250R Fi terparkir indah di dapan halaman rumah keluarga Alexander dengan sopir yang menaikinya terlihat gagah dengan setelan jaket kulit hitamnya. Senyum atau lebih tepatnya di katakan seringai terpasang pada wajah tampannya. Dengan gaya bak seoarang pembalap ia melirik istrinya.
“Siap tuan putri. Tidak bisakah tuan putriku ini meminta dengan tidak berteriak ?hmm”
“WHAT!. Oh oke sekarang kau mau aku mati kena serangan jantung dengan menaiki ‘itu’ bersamamu ? no no no lebih baik aku berangkat sendiri. Bye K-A-O 
“Hey kau mau kemana tuan putri, tuan putriii….”
Kao terpaksa membiarkan ‘tuan putrinya’ berangkat menggunakan taxi, karena istri tercintanya tersebut tidak percaya-ralat-tidak akan pernah percaya bahwa dirinya dapat mengendarai motor. Meski ada raut kekecewaan pada wajahnya tapi dia tetap tersenyum, yaa begitulah sifat istrinya. Dia akhirnya kembali memasukkan motornya ke dalam bagasi kemudian kembali kedalam rumah dan mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaanya sebagai dokter.
Bisa di bilang meraka adalah keluarga yang romantis (tapi romantisnya di mana yaaa, penulis juga sebenernya gak tahu, hehehe).
====================================+++++++==========================================
‘Aku mengagumi dan menyukai hujan. Langit menjadi teduh dan damai  dengan music yang tercipta dari rintikannya. Aku menyukai suara percikan airnya yang menyentuh bumi, menyukai rasa dingin yang timbul setelah terguyur, dan meleburkan rinduku bersama air yang mengalir pada dirinya’
21 maret 2015
Bukan ada pertunjukan atau pameran yang sedang di gelar, bukan pula ada sebuah pesta yang di adakan di kediaman kami. Bahkan aku baru saja mendapat kabar, ada seseorang di sana yang sedang terbaring sakit. Aku baru saja sampai di depan pagar, ketika melihat orang-orang berpakaian serba hitam keluar masuk di kediaman ini, rumah keluarga Petrick. Aku masuk ke dalam rumah seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang terjadi. Bingung karena melihat orang-orang itu tidak sedikit yang menangis, aku segera masuk ke dalam rumah untuk menanyakannya.
“Anakku yang sabar ya, cepat temui ayahmu”
Bibi Arumi, adik dari ibuku. Dia menepuk pundakku pelan, kemudian memelukku. Aku bertanya-tanya apa gerangan yang bisa membawa bibi Arumi yang rumahnya begitu jauh mengunjungi kami, yang ku  tahu sudah beberapa tahun bibi ini tidak pernah lagi mengunjungi kami. Selain pertanyaan itu sebernarnya yang paling ingin ku tanyakan adalah apa maksut perkataannya dan kenapa aku melihat bibi baru saja menangis. Aku menurutinya untuk segera menemui ayahku, yang kata ibu sedang terbaring sakit tadi di telephon. Aku baru ingat mungkin karena ayah sedang sakit sehingga bibi menjenguknya ke sini, masuk akal. Ah mungkin penyakit darah tinggi ayah kambuh lagi, huh dasar ayah mungkin dia mengkonsumsi daging lagi. Akan ku marahi dia nanti setelah bertemu.
Tidak butuh waktu lama untuk berjalan ke ruang utama, aku sudah di depan pintu soji yang menghubungkan aku dengan ruang utama di dalam. Pertama yang ku lihat setelah membuka pintu adalah seseorang yang sedang memberi penghormatan terakhir pada…
‘Kakek ? dan orang yang sedang memberi penghormatan itu adalah paman Jack, dan ibu, kakak, bahkan kakak ipar ? kenapa mereka berdiri berjajar dengan pakaian hitam. Dan di samping mereka, bukankah itu bunga yang di peruntukan bagi seseorang yang telah meninggal dunia ?’
“Ibu…. di mana ayah?”
Aku melihat sekeliling dan tidak melihat keberadaan ayah di mana-mana. Apa ayah sedang berada di rumahsakit ? ku rasa tidak mungkin sedangkan ibu berada di sini. Ibu hanya menatapku sendu saat aku bertanya seperti itu, tidak terlalu lama kemudian ibu menunduk dan terdengar isakan dari bibirnya. Aku tidak mengerti apa yang membuat ibuku bisa sampai menangis seperti itu.
“Ibu, apa yang….”
Ibu melirik sebuah peti di depan paman Jack, aku tidak dapat melanjutkan kalimatku ketika aku melihat di dalam peti tersebut. Ayah sedang terbaring di sana, mengenakan pakaian terbaiknya dengan wajah damai dan senyuman. Tidak aku pungkiri, ayah terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Aku tersenyum melihat ayah yang semakin tampan. Dia adalah ayahku yang paling ku cinta di dunia ini, orang yang sangat berharga selain ibu. Ah kalo di bilang sih aku lebih dekat dengan ayah di banding dengan ibu.
‘Ayah tahu? ayah hari ini terlihat sangat tampan. Ayah tidur sangat nyenyak, tapi apa ayah tidak mau melihat putri bungsu ayah yang cantik ini ? Ayo bangun ayah’
Aku ingin segera memeluk ayah, dan mendapatkan kata-kata yang selalu menjadi kesukaanku “putri kecil ayah yang cantik sedang bahagia ya hari ini, apa karena ayah ?”. Meskipun aku bukan anak kecil lagi aku selalu di perlakukan ayah seolah aku masih putri kecilnya yang dulu. Hal itulah yang ku sukai dari ayah. Aku menghampiri ayah, memegang tangannya berusaha membangunkannya. Tangan ayah sangat dingin dan begitu pucat.
“Apa yang kau lakukan nak ?”
“Tentu saja menyapa ayah seperti biasa ibu, dan kurasa aku harus membangunkan ayah untuk menghibur ibu supaya berhenti menangis. Ibu itu aneh, kenapa mnangis tanpa sebab ?”
Aku masih memegang tangan ayah dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sudah beberapa kali aku memanggil ayah, tapi ayah masih saja bergeming. Aku tidak mengerti, kenapa ayah tidur lelap sekali. Aku tidak mengerti, kenapa kedua mataku menjadi panas. Aku tidak mengerti, kenapa ada rasa sakit yang terasa di hatiku. Aku menangis, Ibu.
“Ayahmu…sudah pergi ke surge nak”
Suara parau ibu terdengar seperti halilintar dalam pendengaranku. Sesaat seperti hujan sedang turun dalam hatiku. Aku teringat sebuah cerita fiksi yang sering di bacakan ayah sewaktu kecil dulu, seorang putri yang selalu ceria yang sangat menyayangi ayahnya. Suatu saat ayah sang putri harus meninggalkan dunia, dan meninggalkan sang putri. Putri yang selalu ceria tersebut berubah menjadi pendiam dan selalu murung. Ah aku tidak tahu apa kelanjutan kisah dari cerita ini.  Apakah ayah sedang membuat drama dari kisah ini untuk menunjukkan akhir dari ceritanya ? Ku akui jika darma yang di perankan oleh keluargaku dan orang-orang yang di sini cukup mengagumkan. Aku tidak tahu jika keluargaku bisa acting sebagus ini.
prok prok prok prok prok
Aku memberikan tepuk tangan terbaikku kepada mereka semua. Mereka sudah bekerja keras dan aku harus menghargai mereka. Tapi ku rasa saatnya mengakhir drama ini karena aku tidak mau berlama-lama melihat keadaan ayah sepeti seorang yang meninggal. Cukup sudah aku ingin mendengar suara ayah dan jenaka ayah seperti biasanya.
“Wah, tidak ku sangka kalian begitu hebat dalam hal acting. Ibu tadi keren banget. Tapi aku rasa sudah cukup drama nya. Ayah ayo cepat bangun, sudah selesai lo dramanya”
Kakak yang sedari tadi hanya diam kini memelukku, sudah lama sepertinya aku tidak di peluk dia setelah punya istri. Ah aku jadi terharu sampai airmataku ini sulit untuk berhenti. Dadaku sesak kak, apa karena kakak memelukku terlalu erat ?
“Terima kenyataan adikku, ayah sudah kembali ke surga”
Setahuku aku tidak pernah punya kelainan jantung, tapi kenapa di dadaku rasanya sakit sekali. Aku sulit bernafas dan tubuhku mendadak lemah tak bertenaga. Aku masih mendengar ketika Ibu berteriak memanggil namaku, tapi volume suaranya semakin mengecil dan kenapa tiba-tiba dunia berubah atmosfer menjadi malam ?….
++++++
Gadis itu bernama Lucia Immanuel petrick, 23 tahun. Dia anak tunggal dari pasangan suami istri Immanuel dan Karin petrick. Sejak kecil dia tumbuh dengan limpahan kasih sayang orangtuanya yang menjadikannya gadis manja meski usianya kini sudah bukan anak kecil lagi. Di banding dengan ibunya, Lucia sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan saat usianya menginjak 15 tahun, gadis tersebut masih ingin tidur besama ayahnya. ‘Benar-benar gadis manja’ itu yang selalu di bilang ibunya saat lucia merajuk minta  ditemani ayahnya tidur. Hanya ayahnya yang bisa membuatnya berhenti menangis saat dia terjatuh waktu masih anak-anak dulu. Selalu ayahnya yang bisa membuatnya tersenyum lagi saat dirinya sudah mengenal patah hati karena cinta. Selalu ayahnya yang di andalkannya, Mr. Immanuel petrick yang kini telah berpulang ke tempat penciptanya.
Gadis itu tidak menemukan senyumnya lagi setelah kematian ayahnya 2 bulan lalu. Dia tidak pernah lagi membuka suaranya selama dua bulan itu dan tidak pernah melakukan apapun. Dirinya tampak seperti patung yang bernafas dengan selang infus dan oksigen sebagai penopang hidupnya.
 “Lucia..Ibu mohon…, jangan terus seperti ini.”
=============================================+++=====================================
‘Aku menemukanmu, di bawah langit yang sedang menangis. Mengguyur badanmu yang ringkih dan terlihat tak berdaya. Aku menatap wajahmu yang menengadah dan saat itu aku tahu bahwa kau sedang menangis. Aku iba, dan membawaku berjalan meraih bahumu. Tolong jangan pernah menangis lagi’
21 Mei 2015
“Bagaimana keadaannya dokter, putri saya, Lucia tidak terjadi hal buruk kan?”
Aku mendengar tanpa sengaja perkataan wanita setengah baya itu saat aku melewati ruangan dokter seniorku, wanita tersebut adalah ibu dari pasien yang bernama Lucia. Sudah dua bulan dia di rawat di sini dan kondisinya memprihatinkan. Bukan aku memang yang menanganinya, tapi sebagai sesama dokter pasti tahu keadaan setiap pasien kan ?.
Lucia adalah gadis yang cantik. Aku pernah beberapa kali mengunjungi ruangannya untuk melihat kondisi kesehatannya ketika di mintai tolong seniorku. Jika saja dia tersenyum, entah mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Yang aku dengar dari senior Lucia adalah pasien dengan gangguan psikis. Lucia tidak pernah melakukan hal apapun selama dua bulan ini kecuali hanya duduk dan termenung. Tubuhnya ringkih karena kesehatan yang kian menurun semakin hari. Ah andai aku tahu penyebabnya, aku akan membantunya untuk menyembuhkannya.
“Senior, boleh saya saja yang merawat Lucia. Saya ingin membantunya”
Aku mendatangi senior dan bermaksud untuk menggantikan beliau untuk merawat Lucia. Hatiku tergerak melihat keadaan gadis itu. Aku ingin merawatnya dan mengobatinya bukan hanya fisik namun juga hatinya. Mungkin, dengan begitu aku akan merasa lega.
‘Aku melihatmu,di bawah hujan yang begitu deras bersama airmatamu yang mengalir. Sungguh, aku ingin sekali menghentikan hujan’
“Saya akan berusaha dan menemukan cara mengobatinya”
 “Apa kau yakin kau bisa melakukannya. Pasien ini sudah dua bulan tidak menunjukkan perkembangan dalam artian baik namun malah mengalami penurunan. Apa kau snggup ? jika iya aku akan menyerahkannya padamu. Jujur saja aku sudah lelah di kejar-kejar ibu anak itu untuk menanyakan perkembangan anaknya.”
“Saya yakin bisa melakukannya”
“Baiklah. Kau bisa ambil catatan kesehatannya di ruanganku”
Aku bisa melakukannya seperti keyakinanku yang ku tunjukkan pada senior. Yang pertama harus aku lakukan adalah menyembuhkan psikisnya. Aku berbicara kepada ibunya mengenai depresi Lucia, terkejut akan semua yang di katakan ibu yang ku ketahui bernama Ny.Karin bahwa Lucia seperti ini karena ayahnya sudah tiada. Anak yang begitu menyayangi ayahnya.
Aku datang menemui Lucia. Dia hanya bergeming dalam posisi duduk menghadap jendela. Seperti saat itu di bawah guyuran hujan, airmata yang entah sudah berapa kali terjatuh itu menghiasi wajahnya. Dan sesaat aku merasakan perasaan seperti ‘itu’ lagi tapi segera ku tepis dan focus kembali pada tujuan awal datang ke ruangan Lucia. Aku berjalan mendekat ke arahnya sampai cukup untuk dapat mengobrol dengannya. Dia tetap bergeming tanpa menoleh, tapi kurasa dia menyadari kehadiranku.
“Lucia….” 
Aku memulainya, hal pertama yang ingin ku lakukan untuk menolongnya adalah mengajaknya berbicara selayaknya manusia normal lainnya. 
‘Debar jantung ini terasa aneh saat aku menatap matamu, jika ini kelainan jantung pasti aku mengetahuinya karena aku seorang dokter. Tapi aku merasa asing dengan debaran ini, rasanya tidak sakit namun nyaman’
“Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku. Aku alexander Kao dokter yang akan menanganimu ke depannya nanti. Mohon kerjasamanya.”
Lucia kini memejamkan matanya, sedikit ada respon untuk perkenalanku tadi.
“Ayahmu…”
Aku akan langsung membicarakannya. Aku tahu dia sangat sensitive jika mendengar kata ayah. Sengaja aku mengucapkan kata itu untuk menarik perhatiannya. Mungkin dia akan lebih merespon perkataanku.
“Aku turut berduka cita atas dirinya. Kau pasti putri yang sangat di sayanginya. Aku yakin sekarang ayahmu sedang memikirkanmu di surga sana. Bukankah sur-..”
Belum sempat aku menyelesaikan seluruh kalimatku Lucia lansung menutup telinganya. Isak tangis terdengar semakin keras.
“Tidak..tidak…TIDAAAAAAKKKKK…Ayahku ada di rumah, berhenti mengatakan seolah-olah ayahku sudah tiada. KAAAUUUU ORANG ASING TIDAK BERHAK BERKATA SEPERTI ITU. PERGI..PERGI..PERGIIIIII….”
Dia semakin histeris dan tak terkendali. Tubuhku bergerak sendiri memeluknya tapi dia berontak. Dia memukul wajahku dan menggigit tanganku. Sulit di percaya dengan keadaan seperti itu pukulannya cukup terasa sakit.
“LEPAS, LEPAS, LEPAS, LEPASKAN AKU”
Lucia semakin meronta dan memukulku beberapa kali, aku tak bisa menanganinya sendiri aku butuh bantuan.
“SUSTER, YANG DI LUAR. BISA TOLONG BANTU”
Dua suster sekaligus datang membantuku memegangi Lucia yang semakin histeris. Terpaksa aku menyuruh salah satu suster untuk menyiapkan obat bius dan menyuntikkannya ke Lucia. Akhirnya dia bisa tenang. Awal pendekatan yang buruk ku pikir. Lucia memang benar-benar sakit psikis.
Selang infus terpasang di tangan kurus Lucia, terlihat jelas bahwa asupan gizi yang selama ini di serap oleh tubuh itu hanya berasal dari botol infus. Aku mengamatinya sekian lama, wajah damai Lucia yang sedang terlelap begitu lembut. Pipi yang sedikit tirus, hidung mungil yang mancung, bibir tipis dan mata… ah seandainya aku dapat melihat matanya yang bersinar.
++++
Setelah seharian bekerja dan mengobati banyak pasien, akhirnya aku dapat beristirat dan menghirup udara selain bau obat di mana-mana. Aku melepas jas dokterku, menggantungnya di loker dan menggantinya dengan jaket yang ku miliki. Memastikasn barangku sudah terbawa semua aku bergegas pulang. Aku benar-benar letih. Dimulai dari menangani pasien yang terlalu banyak sampai kejadian di pukul oleh pasien gangguan psikis. Lucia…..Aku belum menjenguknya lagi setelah kejadian tadi sore, kurasa obat biusnya sudah hilang. Apa yang di lakukannya sekarang ?....
Aku yang sudah sampai di pintu keluar rumahsakit memutar arah kembali masuk kedalam. Ada yang tidak beres dengan kakiku yang bergerak sendiri. Ini di luar control sampai membawaku berlari ke ruang ini, ruang di mana gadis Petrick itu di rawat. Tepat di depan pintu bertuliskan Tulip no.15 aku berhenti. Jantungku berdebar cepat dan nafasku tersengal-sengal , mungkin efek dari berlari tadi. Tapi, debaran jantung ini berbeda, aku tahu itu. Sama seperti yang kurasakan saat pertema kali melihat gadis itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada jantungku sekarang. Tidak mempedulikan keadaan jantungku, aku membuka pintu ruang rawat ini perlahan.  Aku cukup terkejut saat tidak menemukan Lucia di ranjangnya. Namun merasa lega saat menemukan dia duduk di dekat jendela, mungkin itu kebiasaannya.
“Siapa ?”
Aku bergeming di tempat, benarkah itu Lucia yang berbicara. Bukankah selam dua bulan ini dia berhenti berbicara. Ada keajaiban apa sampai dia menyuarakan suaranya yang tertahan selama dua bulan ini. Bahkan ibunya sendiripun tidak bisa membuatnya berbicara lagi. Namun aku merasa bersyukur karena  Lucia mau berbicara lagi meskipun hanya beberapa kata.
“Ku bilang siapa?, apa kau tuli atau tidak bisa berbicara ?”
Dia memalingkan wajahnya menghadapku dan menatap mataku tajam. Apa ini gadis yang tadi histeris sampai memerlukan obat bius untuk membuatnya tenang?. Kurasa mustahil, seseorang dengan keadaan seperti tadi dapat menatapku seperti itu dan bicara normal. Sungguh aku tidak bisa memikirnya lebih jauh lagi.
“Eh….K-kau sudah bisa berbicara?”
Karena aku terkejut dengan apa yang di lakukannya barusan membuatku berbicara tergagap. Sungguh konyol, ini bukan gayaku yang biasanya.
“Kau pikir aku bisu? tentu saja aku bisa bicara. Aku memang tidak bicara selama dua bulan lebih tapi bukan berarti aku tidak bisa bicara. Kau ini seorang dokter yan menanganiku kan? apa tidak bisa mengetahui kondisiku. Oh… aku tahu, mungkin kau hanya dokter magang yang tidak tahu apa-apa soal pasien. Huh.. kurasa ibu salah memilih rumahsakit yang mempercayakan pasiennya ke orang seperti ini”
Aku hanya diam mencoba mencerna kata-kata yang baru saja Lucia lontarkan kepadaku. Kalimatnya terlalu panjang untuk bisa di cerna orang yang baru terkejut sepertiku. Tadi dia mengatakan seorang dokter magang, tidak tahu apa-apa tentang pasien, salah memilih rumahsakit, mempercayakannya pada orang seperti ini. Tunggu… yang dia maksud adalah aku dokter magang ?.
“A-apa katamu, aku dokter magang?”
Yang benar saja dia. Tapi aku sungguh penasaran, keajaiban apa yang membuatnya bisa normal kembali dan aku sungguh penasaran dengan sifat sesungguhnya gadis ini.
“Kurasa kau sudah mendengarnya tadi dan aku tidak perlu mengulanginya lagi. Kau tahu setelah dua bulan tidak mengeluarkan suara dan pertamakalinya berbicara lagi itu terlalu sulit, jadi jangan buat aku terlalu banyak bicara. Kau mengerti dokter magang?”
Hebat. Dia bilang bicara untuk pertama kalinya setelah dua bulan tidak mengeluarkan suara terlalu sulit di lakukan dan meminta untuk tidak membuatnya berbicara panjang. Tapi dia sendirikan yang berbicara panjang, dan aku tidak pernah menyuruhnya bebicara terlalu banyak. Dasar perempuan.
‘Mungkin aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi padaku, tapi aku sedikit tahu saat mendengar suaramu. Kurasa ini adalah perasaan seorang pria kepada wanita’
=======================================++++==========================================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar