TitIEz K'MaLA (titis nur)
Waktu tak akan pernah menunggumu siap menghadapi perubahan, untuk itu berusahalah memanfaatkan waktu untuk siap menghadapi perubahan dunia.
Minggu, 31 Juli 2016
Senin, 23 Mei 2016
Lirik dan Terjemahannya Kun Anta Humood AlKhudher
Kalian pasti tahu dong lagu yang di bawakan oleh Humood Alkhuder yang berjudul kun anta. Pertama denger dan tahu lagu ini dari temen yang nge tag di fb, di videonya itu di cover sama seorang ukhti sih, tapi keren kog. Mulai dari sini aku jadi seneng denger lagunya dan mulai nyari2 tahu liriknya. Nah buat kalian yang juga sama suka lagu ini , aku share deh liriknya,,,, hehe :)
Kun Anta - Humood AlKhudher
لأجاريهم، قلدت ظاهر ما فيهم
Liujarihim, qoldat tu zohiru ma fihim
Ketika ingin bersaing dengan yang lain, aku ingin meniru perwatakan luar dan dalamnya.
فبدوتُ شخصاً آخر، كي أتفاخر
Pabadautu shakhson a-khar, kai atafa-khar,
Jadi aku boleh jadi seorang yang lain hanya untuk berbangga
و ظننتُ أنا، أنّي بذلك حُزْت غنى
Wa zonan tu ana, anni bizalika huztu ghina,
dan aku sangka jika aku lakukan seperti itu aku akan dapat kelebihan
فوجدتُ أنّي خاسر، فتلك مظاهر
Fawajad tu anni kha-sir, fatilka mazohir,
Tetapi yang kuperolehi hanyalah kerugian di atas perwatakanku ini.
لا لا لا نحتاج المال
La la, La nahtajul ma-la,
Kita tidak memerlukan harta
كي نزداد جمالا
Kai nazdada jama-la,
untuk menambahkan kecantikan,
جوهرنا هنا
Jauharna huna,
kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini
في القلب تلالا
Fi qalbi talala,
di dalam hati ia bersinar.
,لا لا نرضي الناس بما لا
La la, Nurdhin nasi bima-la,
kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang tidak ada,
,نرضاه لنا حالا
Nardhohu la na ha-la,
yang tidak sesuai dengan kita,
,ذاك جمالنا
Za-ka jamaluna,
itulah kecantikan kita,
يسمو يتعالى
Yasmu yataa’la
semakin bertambah hingga ke atas.
كن أنت تزدد جمالاً
Kun anta tazdada jamala
Jadilah diri kamu sendiri pasti akan menambahkan lagi kecantikan yang sedia ada
أتقبّلهم، الناس لست أقلّدهم
Attaqabbalhum, anna-su lastu qalliduhum,
Sungguh aku menerima mereka tetapi tidak pula aku meniru perwatakan mereka
إلا بما يرضيني، كي أرضيني
Illa bima yurdhi-ni, kai urdhi-ni,
melainkan apa yang aku terima itu aku telah ridha.
سأكون أنا، مثلي تماما هذا أنا
Sa akunu ana, mithli tamaman hazana,
aku ingin menjadi seperti diri aku sendiri inilah aku
فقناعتي تكفيني، ذاك يقيني
Fakona a’ti takfini, za-ka yaqi-ni,
hal ini kurasakan sudah cukup dan aku sangat pasti
لا لا لا نحتاج المال
La la, La nahtajul ma-la,
Kita tidak memerlukan harta
كي نزداد جمالا
Kai nazdada jama-la,
untuk menambahkan kecantikan,
جوهرنا هنا
Jauharna huna,
kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini
في القلب تلالا
Fi qalbi talala,
di dalam hati ia bersinar.
,لا لا نرضي الناس بما لا
La la, Nurdhin nasi bima-la,
kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang tidak ada,
,نرضاه لنا حالا
Nardhohu la na ha-la,
yang tidak sesuai dengan kita,
,ذاك جمالنا
Za-ka jamaluna,
itulah kecantikan kita,
يسمو يتعالى
Yasmu yataa’la
semakin bertambah hingga ke atas.
كن أنت تزدد جمالاً
Kun anta tazdada jamala
Jadilah diri kamu sendiri pasti akan menambahkan lagi kecantikan yang sedia ada
سأكون أنا، من أرضى أنا، لن أسعى لا لرضاهم
Saakunu ana, man ardho ana, lan asa’ la liri dhohum,
Aku akan jadi mengikut kemampuan diriku aku tidak perlukan orang lain menerimaku
وأكون أنا، ما أهوى أنا، مالي وما لرضاهم
Waakunu ana, ma ahwa ana, ma-li wama liridhohum,
aku akan jadi apa yang aku suka kenapa aku perlu peduli tentang penerimaan mereka terhadapku
سأكون أنا، من أرضى أنا، لن أسعى لا لرضاهم
Saakunu ana, man ardho ana, lan asa’ la liri dhohum,
Aku akan jadi mengikut kemampuan diriku aku tidak perlukan orang lain menerimaku
وأكون أنا، ما أهوى أنا، مالي وما لرضاهم
Waakunu ana, ma ahwa ana, ma-li wama liridhohum,
aku akan jadi apa yang aku suka kenapa aku perlu peduli tentang penerimaan mereka terhadapku
لا لا لا نحتاج المال
La la, La nahtajul ma-la,
Kita tidak memerlukan harta
كي نزداد جمالا
Kai nazdada jama-la,
untuk menambahkan kecantikan,
جوهرنا هنا
Jauharna huna,
kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini
في القلب تلالا
Fi qalbi talala,
di dalam hati ia bersinar.
,لا لا نرضي الناس بما لا
La la, Nurdhin nasi bima-la,
kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang tidak ada,
,نرضاه لنا حالا
Nardhohu la na ha-la,
yang tidak sesuai dengan kita,
,ذاك جمالنا
Za-ka jamaluna,
itulah kecantikan kita,
يسمو يتعالى
Yasmu yataa’la
semakin bertambah hingga ke atas.
كن أنت تزدد جمالاً
Kun anta tazdada jamala
Jadilah diri kamu sendiri pasti akan menambahkan lagi kecantikan yang sedia ada
Oke guys segitu liriknya, ayo nyanyi bareng-bareng
Sabtu, 21 Mei 2016
Hujan Telah Berhenti
“Hujan Telah Berhenti”
‘Aku membenci hujan karena hujan adalah airmata, karena hujan adalah
kesedihan langit, karena hujan membuat aku tersenyum dan menangis bersamaan,
karena hujan menyembunyikan diriku, karena hujan adalah hal yang sangat dia kagumi’
21 maret 2016
Pria itu terlelap dalam
kedamaian, dengkuran halus samar-samar terdengar dari bibirnya yang sedikit
menyunggingkan senyum. Kebahagian terpatri dengan jelas di wajahnya. Lengan
kekarnya melingkar possesif pada tubuh mungil di sampingnya, menyimpannya dalam
dekapan erat pada dada bidangnya yang tertutupi kaos putih polos.
Terusik dengan cahaya yang mulai
masuk dari celah korden yang sedikit tersingkap, dua tubuh yan saling
berdekapan tersebut perlahan begerak. Kedua retina sedikit menyipit mendapati
cahaya yang terlalu silau untuk mata yang baru saja terbuka dari lelapnya.
“Arrrrrggghhh, matikan lampunya.
Aku ngantuk tahu, tidak tahu apa besok aku ada wawancara kerja. Kalau telat
gimana?. Kao cepat matiin. ugh”
Omel sosok kecil yang merasa
tidurnya terganggu dengan cahaya yang masuk ke kamar. Sang pria berusaha bangun
dari posisi tidurnya, sedikit menyesuaikan irisnya dengan cahaya dia membuka
matanya perlahan. Tersadar matahari sudah meninggi pria itu segera melihat jam
weaker yang setia di atas meja, angka 07.45 tertera di sana. Oh astaga tidakkah
manusia di sampingnya ini memiliki acara yang dia bilang penting, tapi masih
setia bergelung dalam selimut.
“Kau bilang apa? besok? besokmu
itu udah sekarang tahu. cepat bangun sana! hey tukang tidur”
Berusaha membangunkan manusia
mungil di sampingnya dengan berbicara di dekat telinga dan menggoyangkan tubuh
mungil itu pelan. Merasa tidak ada pergerakan, Kao nama pria itu mencoba
menarik selimut wanita yang ia klaim tukang tidur itu paksa dengan sekali
hentakan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah tubuh mungil dalam selimut
berguling jatuh ke lantai.
“Kyaaaa….sakit. Kao apa yang kau
lakukan. Kau menganggu tidurku”
Kao hanya nyengir kemudian menunjukkan
jam weaker ke hadapan wanita mungil yang masih berngantuk ria.
“Pertemuan yang katamu akan kau
hadiri bukankah jam 08.00 pagi, kau lihat jam berapa sekarang ? Cepat berdiri
dan bersiap-siap”
Wanita mungil ini masih
mengucek-ngucek matanya yang terlihat masih mengantuk. Setelah di rasa bisa di
gunakan untuk melihat, matanya langsung di gunakan untuk melihat jam weaker
yang di tunjukan oleh pria di depannya. Sedikit menyipit kemudian berusaha
mencerna kalimat yang juga di ucapkan oleh pria di depannya.
1… Masih lemot mikir
2… Retinanya mulai terbuka lebar
3… Dan….
“HUUAAAAA…..KAO KENAPA KAU TAK
MEMBANGUNKAN AKU HAA!!! INI 15 MENIT LAGI. HUAAA”
Sreeettt,Braakkk,Bugh. Hadiah
yang di berikan sang wanita di pagi hari. Tendangan kuat yang mengarah ke perut.
Ah…. itu adalah kebiasaan si wanita. Bisa di bilang salam cinta.
“Awww, bisakah kau hilangin
kebiasaanmu menghajar orang di pagi hari. sakit tahu!!”
Kao mengaduh saat merasakan
tendangan di perutnya, pelakunya hanya masa bodoh dan bergegas ke kamar mandi
karena deadline yang akan di laksanakan 15 menit lagi.
Ini salahnya, salah si bodoh
kepala besar itu. Coba saja dia tidak mengajak taruhan siapa yang paling kuat
bertahan bergadang, gak akan begini jadinya. sial,sial, sial dasar Kao bodoh.
Gadis itu masih sempat mengomel
dalam hatinya.
++++
Alexander Kao adalah pria berusia
29 tahun, seoarang dokter muda yang berbakat, punya banyak prestasi, dan yang
oh so wow adalah wajah tampan nya dengan garis rahang yang tegas yang bikin
banyak siti hawa tak bisa mengedipkan mata. Postur tubuh yang atletis menambah
kesan maskulin padanya. Namun, dari sekian banyak wanita yang berlomba-lomba
untuk dapat berada dalam hati pria ini, hanya satu yang mampu memenangkannya
yaitu wanita yang lebih muda 6 tahun darinya yang sekarang telah resmi menjadi
nyonya alexander.
“KAOOO, cepat anterin aku!”
15 menit adalah waktu yang
terlalu singkat untuk seseorang yang baru saja bangun tidur untuk bersiap pergi
ke tempat kerja, maka dengan persiapan seadanya-baca: gosok gigi, cuci muka,
ganti pakaian formal dan mambawa CVnya- nyonya Alexander dengan tergesa-gesa
berangkat ke calon tempat kerjanya.
Kawasaki Ninja 250R Fi terparkir
indah di dapan halaman rumah keluarga Alexander dengan sopir yang menaikinya
terlihat gagah dengan setelan jaket kulit hitamnya. Senyum atau lebih tepatnya
di katakan seringai terpasang pada wajah tampannya. Dengan gaya bak seoarang
pembalap ia melirik istrinya.
“Siap tuan putri. Tidak bisakah
tuan putriku ini meminta dengan tidak berteriak ?hmm”
“WHAT!. Oh oke sekarang kau mau
aku mati kena serangan jantung dengan menaiki ‘itu’ bersamamu ? no no no lebih
baik aku berangkat sendiri. Bye K-A-O
“
“Hey kau mau kemana tuan putri,
tuan putriii….”
Kao terpaksa membiarkan ‘tuan
putrinya’ berangkat menggunakan taxi, karena istri tercintanya tersebut tidak
percaya-ralat-tidak akan pernah percaya bahwa dirinya dapat mengendarai motor.
Meski ada raut kekecewaan pada wajahnya tapi dia tetap tersenyum, yaa begitulah
sifat istrinya. Dia akhirnya kembali memasukkan motornya ke dalam bagasi
kemudian kembali kedalam rumah dan mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaanya
sebagai dokter.
Bisa di bilang meraka adalah
keluarga yang romantis (tapi romantisnya di mana yaaa, penulis juga sebenernya
gak tahu, hehehe).
====================================+++++++==========================================
‘Aku mengagumi dan menyukai hujan. Langit menjadi teduh dan damai dengan music yang tercipta dari rintikannya.
Aku menyukai suara percikan airnya yang menyentuh bumi, menyukai rasa dingin
yang timbul setelah terguyur, dan meleburkan rinduku bersama air yang mengalir
pada dirinya’
21 maret 2015
Bukan ada pertunjukan atau
pameran yang sedang di gelar, bukan pula ada sebuah pesta yang di adakan di
kediaman kami. Bahkan aku baru saja mendapat kabar, ada seseorang di sana yang sedang
terbaring sakit. Aku baru saja sampai di depan pagar, ketika melihat
orang-orang berpakaian serba hitam keluar masuk di kediaman ini, rumah keluarga
Petrick. Aku masuk ke dalam rumah seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa
tentang apa yang sedang terjadi. Bingung karena melihat orang-orang itu tidak
sedikit yang menangis, aku segera masuk ke dalam rumah untuk menanyakannya.
“Anakku yang sabar ya, cepat
temui ayahmu”
Bibi Arumi, adik dari ibuku. Dia
menepuk pundakku pelan, kemudian memelukku. Aku bertanya-tanya apa gerangan
yang bisa membawa bibi Arumi yang rumahnya begitu jauh mengunjungi kami, yang
ku tahu sudah beberapa tahun bibi ini
tidak pernah lagi mengunjungi kami. Selain pertanyaan itu sebernarnya yang
paling ingin ku tanyakan adalah apa maksut perkataannya dan kenapa aku melihat
bibi baru saja menangis. Aku menurutinya untuk segera menemui ayahku, yang kata
ibu sedang terbaring sakit tadi di telephon. Aku baru ingat mungkin karena ayah
sedang sakit sehingga bibi menjenguknya ke sini, masuk akal. Ah mungkin
penyakit darah tinggi ayah kambuh lagi, huh dasar ayah mungkin dia mengkonsumsi
daging lagi. Akan ku marahi dia nanti setelah bertemu.
Tidak butuh waktu lama untuk
berjalan ke ruang utama, aku sudah di depan pintu soji yang menghubungkan aku
dengan ruang utama di dalam. Pertama yang ku lihat setelah membuka pintu adalah
seseorang yang sedang memberi penghormatan terakhir pada…
‘Kakek ? dan orang yang sedang
memberi penghormatan itu adalah paman Jack, dan ibu, kakak, bahkan kakak ipar ?
kenapa mereka berdiri berjajar dengan pakaian hitam. Dan di samping mereka,
bukankah itu bunga yang di peruntukan bagi seseorang yang telah meninggal dunia
?’
“Ibu…. di mana ayah?”
Aku melihat sekeliling dan tidak
melihat keberadaan ayah di mana-mana. Apa ayah sedang berada di rumahsakit ? ku
rasa tidak mungkin sedangkan ibu berada di sini. Ibu hanya menatapku sendu saat
aku bertanya seperti itu, tidak terlalu lama kemudian ibu menunduk dan
terdengar isakan dari bibirnya. Aku tidak mengerti apa yang membuat ibuku bisa
sampai menangis seperti itu.
“Ibu, apa yang….”
Ibu melirik sebuah peti di depan
paman Jack, aku tidak dapat melanjutkan kalimatku ketika aku melihat di dalam
peti tersebut. Ayah sedang terbaring di sana, mengenakan pakaian terbaiknya
dengan wajah damai dan senyuman. Tidak aku pungkiri, ayah terlihat jauh lebih
tampan dari biasanya. Aku tersenyum melihat ayah yang semakin tampan. Dia
adalah ayahku yang paling ku cinta di dunia ini, orang yang sangat berharga
selain ibu. Ah kalo di bilang sih aku lebih dekat dengan ayah di banding dengan
ibu.
‘Ayah tahu? ayah hari ini
terlihat sangat tampan. Ayah tidur sangat nyenyak, tapi apa ayah tidak mau
melihat putri bungsu ayah yang cantik ini ? Ayo bangun ayah’
Aku ingin segera memeluk ayah,
dan mendapatkan kata-kata yang selalu menjadi kesukaanku “putri kecil ayah yang
cantik sedang bahagia ya hari ini, apa karena ayah ?”. Meskipun aku bukan anak
kecil lagi aku selalu di perlakukan ayah seolah aku masih putri kecilnya yang
dulu. Hal itulah yang ku sukai dari ayah. Aku menghampiri ayah, memegang
tangannya berusaha membangunkannya. Tangan ayah sangat dingin dan begitu pucat.
“Apa yang kau lakukan nak ?”
“Tentu saja menyapa ayah seperti
biasa ibu, dan kurasa aku harus membangunkan ayah untuk menghibur ibu supaya berhenti
menangis. Ibu itu aneh, kenapa mnangis tanpa sebab ?”
Aku masih memegang tangan ayah
dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sudah beberapa kali aku memanggil ayah, tapi
ayah masih saja bergeming. Aku tidak mengerti, kenapa ayah tidur lelap sekali.
Aku tidak mengerti, kenapa kedua mataku menjadi panas. Aku tidak mengerti,
kenapa ada rasa sakit yang terasa di hatiku. Aku menangis, Ibu.
“Ayahmu…sudah pergi ke surge nak”
Suara parau ibu terdengar seperti
halilintar dalam pendengaranku. Sesaat seperti hujan sedang turun dalam hatiku.
Aku teringat sebuah cerita fiksi yang sering di bacakan ayah sewaktu kecil
dulu, seorang putri yang selalu ceria yang sangat menyayangi ayahnya. Suatu
saat ayah sang putri harus meninggalkan dunia, dan meninggalkan sang putri.
Putri yang selalu ceria tersebut berubah menjadi pendiam dan selalu murung. Ah
aku tidak tahu apa kelanjutan kisah dari cerita ini. Apakah ayah sedang membuat drama dari kisah
ini untuk menunjukkan akhir dari ceritanya ? Ku akui jika darma yang di
perankan oleh keluargaku dan orang-orang yang di sini cukup mengagumkan. Aku
tidak tahu jika keluargaku bisa acting sebagus ini.
prok prok prok prok prok
Aku memberikan tepuk tangan
terbaikku kepada mereka semua. Mereka sudah bekerja keras dan aku harus
menghargai mereka. Tapi ku rasa saatnya mengakhir drama ini karena aku tidak
mau berlama-lama melihat keadaan ayah sepeti seorang yang meninggal. Cukup
sudah aku ingin mendengar suara ayah dan jenaka ayah seperti biasanya.
“Wah, tidak ku sangka kalian
begitu hebat dalam hal acting. Ibu tadi keren banget. Tapi aku rasa sudah cukup
drama nya. Ayah ayo cepat bangun, sudah selesai lo dramanya”
Kakak yang sedari tadi hanya diam
kini memelukku, sudah lama sepertinya aku tidak di peluk dia setelah punya
istri. Ah aku jadi terharu sampai airmataku ini sulit untuk berhenti. Dadaku
sesak kak, apa karena kakak memelukku terlalu erat ?
“Terima kenyataan adikku, ayah
sudah kembali ke surga”
Setahuku aku tidak pernah punya
kelainan jantung, tapi kenapa di dadaku rasanya sakit sekali. Aku sulit
bernafas dan tubuhku mendadak lemah tak bertenaga. Aku masih mendengar ketika
Ibu berteriak memanggil namaku, tapi volume suaranya semakin mengecil dan kenapa
tiba-tiba dunia berubah atmosfer menjadi malam ?….
++++++
Gadis itu bernama Lucia Immanuel
petrick, 23 tahun. Dia anak tunggal dari pasangan suami istri Immanuel dan
Karin petrick. Sejak kecil dia tumbuh dengan limpahan kasih sayang orangtuanya
yang menjadikannya gadis manja meski usianya kini sudah bukan anak kecil lagi.
Di banding dengan ibunya, Lucia sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan saat
usianya menginjak 15 tahun, gadis tersebut masih ingin tidur besama ayahnya.
‘Benar-benar gadis manja’ itu yang selalu di bilang ibunya saat lucia merajuk
minta ditemani ayahnya tidur. Hanya
ayahnya yang bisa membuatnya berhenti menangis saat dia terjatuh waktu masih
anak-anak dulu. Selalu ayahnya yang bisa membuatnya tersenyum lagi saat dirinya
sudah mengenal patah hati karena cinta. Selalu ayahnya yang di andalkannya, Mr.
Immanuel petrick yang kini telah berpulang ke tempat penciptanya.
Gadis itu tidak menemukan
senyumnya lagi setelah kematian ayahnya 2 bulan lalu. Dia tidak pernah lagi
membuka suaranya selama dua bulan itu dan tidak pernah melakukan apapun.
Dirinya tampak seperti patung yang bernafas dengan selang infus dan oksigen
sebagai penopang hidupnya.
“Lucia..Ibu mohon…, jangan terus seperti ini.”
=============================================+++=====================================
‘Aku menemukanmu, di bawah langit yang sedang menangis. Mengguyur
badanmu yang ringkih dan terlihat tak berdaya. Aku menatap wajahmu yang
menengadah dan saat itu aku tahu bahwa kau sedang menangis. Aku iba, dan
membawaku berjalan meraih bahumu. Tolong jangan pernah menangis lagi’
21 Mei 2015
“Bagaimana keadaannya dokter, putri
saya, Lucia tidak terjadi hal buruk kan?”
Aku mendengar tanpa sengaja
perkataan wanita setengah baya itu saat aku melewati ruangan dokter seniorku, wanita
tersebut adalah ibu dari pasien yang bernama Lucia. Sudah dua bulan dia di
rawat di sini dan kondisinya memprihatinkan. Bukan aku memang yang
menanganinya, tapi sebagai sesama dokter pasti tahu keadaan setiap pasien kan
?.
Lucia adalah gadis yang cantik.
Aku pernah beberapa kali mengunjungi ruangannya untuk melihat kondisi
kesehatannya ketika di mintai tolong seniorku. Jika saja dia tersenyum, entah
mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Yang aku dengar dari senior Lucia adalah
pasien dengan gangguan psikis. Lucia tidak pernah melakukan hal apapun selama
dua bulan ini kecuali hanya duduk dan termenung. Tubuhnya ringkih karena
kesehatan yang kian menurun semakin hari. Ah andai aku tahu penyebabnya, aku
akan membantunya untuk menyembuhkannya.
“Senior, boleh saya saja yang
merawat Lucia. Saya ingin membantunya”
Aku mendatangi senior dan
bermaksud untuk menggantikan beliau untuk merawat Lucia. Hatiku tergerak
melihat keadaan gadis itu. Aku ingin merawatnya dan mengobatinya bukan hanya
fisik namun juga hatinya. Mungkin, dengan begitu aku akan merasa lega.
‘Aku melihatmu,di bawah hujan yang begitu deras bersama airmatamu yang
mengalir. Sungguh, aku ingin sekali menghentikan hujan’
“Saya akan berusaha dan menemukan
cara mengobatinya”
“Apa kau yakin kau bisa melakukannya. Pasien
ini sudah dua bulan tidak menunjukkan perkembangan dalam artian baik namun
malah mengalami penurunan. Apa kau snggup ? jika iya aku akan menyerahkannya
padamu. Jujur saja aku sudah lelah di kejar-kejar ibu anak itu untuk menanyakan
perkembangan anaknya.”
“Saya yakin bisa melakukannya”
“Baiklah. Kau bisa ambil catatan
kesehatannya di ruanganku”
Aku bisa melakukannya seperti
keyakinanku yang ku tunjukkan pada senior. Yang pertama harus aku lakukan
adalah menyembuhkan psikisnya. Aku berbicara kepada ibunya mengenai depresi
Lucia, terkejut akan semua yang di katakan ibu yang ku ketahui bernama Ny.Karin
bahwa Lucia seperti ini karena ayahnya sudah tiada. Anak yang begitu menyayangi
ayahnya.
Aku datang menemui Lucia. Dia
hanya bergeming dalam posisi duduk menghadap jendela. Seperti saat itu di bawah
guyuran hujan, airmata yang entah sudah berapa kali terjatuh itu menghiasi
wajahnya. Dan sesaat aku merasakan perasaan seperti ‘itu’ lagi tapi segera ku
tepis dan focus kembali pada tujuan awal datang ke ruangan Lucia. Aku berjalan
mendekat ke arahnya sampai cukup untuk dapat mengobrol dengannya. Dia tetap
bergeming tanpa menoleh, tapi kurasa dia menyadari kehadiranku.
“Lucia….”
Aku memulainya, hal pertama yang
ingin ku lakukan untuk menolongnya adalah mengajaknya berbicara selayaknya
manusia normal lainnya.
‘Debar jantung ini terasa aneh saat aku menatap matamu, jika ini
kelainan jantung pasti aku mengetahuinya karena aku seorang dokter. Tapi aku
merasa asing dengan debaran ini, rasanya tidak sakit namun nyaman’
“Sebelumnya aku akan
memperkenalkan diriku. Aku alexander Kao dokter yang akan menanganimu ke
depannya nanti. Mohon kerjasamanya.”
Lucia kini memejamkan matanya, sedikit
ada respon untuk perkenalanku tadi.
“Ayahmu…”
Aku akan langsung
membicarakannya. Aku tahu dia sangat sensitive jika mendengar kata ayah.
Sengaja aku mengucapkan kata itu untuk menarik perhatiannya. Mungkin dia akan
lebih merespon perkataanku.
“Aku turut berduka cita atas
dirinya. Kau pasti putri yang sangat di sayanginya. Aku yakin sekarang ayahmu
sedang memikirkanmu di surga sana. Bukankah sur-..”
Belum sempat aku menyelesaikan
seluruh kalimatku Lucia lansung menutup telinganya. Isak tangis terdengar
semakin keras.
“Tidak..tidak…TIDAAAAAAKKKKK…Ayahku
ada di rumah, berhenti mengatakan seolah-olah ayahku sudah tiada. KAAAUUUU
ORANG ASING TIDAK BERHAK BERKATA SEPERTI ITU. PERGI..PERGI..PERGIIIIII….”
Dia semakin histeris dan tak
terkendali. Tubuhku bergerak sendiri memeluknya tapi dia berontak. Dia memukul
wajahku dan menggigit tanganku. Sulit di percaya dengan keadaan seperti itu
pukulannya cukup terasa sakit.
“LEPAS, LEPAS, LEPAS, LEPASKAN
AKU”
Lucia semakin meronta dan
memukulku beberapa kali, aku tak bisa menanganinya sendiri aku butuh bantuan.
“SUSTER, YANG DI LUAR. BISA
TOLONG BANTU”
Dua suster sekaligus datang
membantuku memegangi Lucia yang semakin histeris. Terpaksa aku menyuruh salah
satu suster untuk menyiapkan obat bius dan menyuntikkannya ke Lucia. Akhirnya
dia bisa tenang. Awal pendekatan yang buruk ku pikir. Lucia memang benar-benar
sakit psikis.
Selang infus terpasang di tangan
kurus Lucia, terlihat jelas bahwa asupan gizi yang selama ini di serap oleh
tubuh itu hanya berasal dari botol infus. Aku mengamatinya sekian lama, wajah
damai Lucia yang sedang terlelap begitu lembut. Pipi yang sedikit tirus, hidung
mungil yang mancung, bibir tipis dan mata… ah seandainya aku dapat melihat
matanya yang bersinar.
++++
Setelah seharian bekerja dan
mengobati banyak pasien, akhirnya aku dapat beristirat dan menghirup udara
selain bau obat di mana-mana. Aku melepas jas dokterku, menggantungnya di loker
dan menggantinya dengan jaket yang ku miliki. Memastikasn barangku sudah
terbawa semua aku bergegas pulang. Aku benar-benar letih. Dimulai dari
menangani pasien yang terlalu banyak sampai kejadian di pukul oleh pasien
gangguan psikis. Lucia…..Aku belum menjenguknya lagi setelah kejadian tadi
sore, kurasa obat biusnya sudah hilang. Apa yang di lakukannya sekarang ?....
Aku yang sudah sampai di pintu
keluar rumahsakit memutar arah kembali masuk kedalam. Ada yang tidak beres
dengan kakiku yang bergerak sendiri. Ini di luar control sampai membawaku
berlari ke ruang ini, ruang di mana gadis Petrick itu di rawat. Tepat di depan
pintu bertuliskan Tulip no.15 aku berhenti. Jantungku berdebar cepat dan
nafasku tersengal-sengal , mungkin efek dari berlari tadi. Tapi, debaran
jantung ini berbeda, aku tahu itu. Sama seperti yang kurasakan saat pertema
kali melihat gadis itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada jantungku sekarang.
Tidak mempedulikan keadaan jantungku, aku membuka pintu ruang rawat ini
perlahan. Aku cukup terkejut saat tidak
menemukan Lucia di ranjangnya. Namun merasa lega saat menemukan dia duduk di
dekat jendela, mungkin itu kebiasaannya.
“Siapa ?”
Aku bergeming di tempat, benarkah
itu Lucia yang berbicara. Bukankah selam dua bulan ini dia berhenti berbicara.
Ada keajaiban apa sampai dia menyuarakan suaranya yang tertahan selama dua
bulan ini. Bahkan ibunya sendiripun tidak bisa membuatnya berbicara lagi. Namun
aku merasa bersyukur karena Lucia mau
berbicara lagi meskipun hanya beberapa kata.
“Ku bilang siapa?, apa kau tuli
atau tidak bisa berbicara ?”
Dia memalingkan wajahnya
menghadapku dan menatap mataku tajam. Apa ini gadis yang tadi histeris sampai
memerlukan obat bius untuk membuatnya tenang?. Kurasa mustahil, seseorang
dengan keadaan seperti tadi dapat menatapku seperti itu dan bicara normal.
Sungguh aku tidak bisa memikirnya lebih jauh lagi.
“Eh….K-kau sudah bisa berbicara?”
Karena aku terkejut dengan apa yang
di lakukannya barusan membuatku berbicara tergagap. Sungguh konyol, ini bukan
gayaku yang biasanya.
“Kau pikir aku bisu? tentu saja
aku bisa bicara. Aku memang tidak bicara selama dua bulan lebih tapi bukan
berarti aku tidak bisa bicara. Kau ini seorang dokter yan menanganiku kan? apa
tidak bisa mengetahui kondisiku. Oh… aku tahu, mungkin kau hanya dokter magang
yang tidak tahu apa-apa soal pasien. Huh.. kurasa ibu salah memilih rumahsakit
yang mempercayakan pasiennya ke orang seperti ini”
Aku hanya diam mencoba mencerna
kata-kata yang baru saja Lucia lontarkan kepadaku. Kalimatnya terlalu panjang
untuk bisa di cerna orang yang baru terkejut sepertiku. Tadi dia mengatakan seorang
dokter magang, tidak tahu apa-apa tentang pasien, salah memilih rumahsakit,
mempercayakannya pada orang seperti ini. Tunggu… yang dia maksud adalah aku
dokter magang ?.
“A-apa katamu, aku dokter
magang?”
Yang benar saja dia. Tapi aku
sungguh penasaran, keajaiban apa yang membuatnya bisa normal kembali dan aku
sungguh penasaran dengan sifat sesungguhnya gadis ini.
“Kurasa kau sudah mendengarnya
tadi dan aku tidak perlu mengulanginya lagi. Kau tahu setelah dua bulan tidak
mengeluarkan suara dan pertamakalinya berbicara lagi itu terlalu sulit, jadi
jangan buat aku terlalu banyak bicara. Kau mengerti dokter magang?”
Hebat. Dia bilang bicara untuk
pertama kalinya setelah dua bulan tidak mengeluarkan suara terlalu sulit di
lakukan dan meminta untuk tidak membuatnya berbicara panjang. Tapi dia
sendirikan yang berbicara panjang, dan aku tidak pernah menyuruhnya bebicara
terlalu banyak. Dasar perempuan.
‘Mungkin aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi padaku, tapi aku
sedikit tahu saat mendengar suaramu. Kurasa ini adalah perasaan seorang pria
kepada wanita’
=======================================++++==========================================
Minggu, 20 September 2015
Lyric + Indonesian Translate Kyuhyun -At Gwanghwamun
Lyric
+ Indonesia Translate] KyuHyun – At Gwanghwamun (광화문에서)

Title : at Gwanghwamun
Singer : Cho KyuHyun
Album : at Gwanghwamun
Tracklist : 1
Date Release : 2014
Singer : Cho KyuHyun
Album : at Gwanghwamun
Tracklist : 1
Date Release : 2014
[Romanji]
neon eottaessneunji
ajig yeoreumi nama
waenji nan jogeum jichyeossdeon haru
gwanghwamun garosu eunhaeng-ip muldeul ttae
geujeya gogael deur-eoss-eossna bwa
waenji nan jogeum jichyeossdeon haru
gwanghwamun garosu eunhaeng-ip muldeul ttae
geujeya gogael deur-eoss-eossna bwa
nuni busige banjjag
ideon uri dureun
imi nami doe-eossjanha
ne pum aneseo sesangi nae geosieossdeon
cheol eobsdeon sijeoreun annyeong
imi nami doe-eossjanha
ne pum aneseo sesangi nae geosieossdeon
cheol eobsdeon sijeoreun annyeong
oneul babocheoleom geu
jalie seo issneun geoya
biga naerimyeon heumppeog jeojeumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaesseo
geu son jabgo geoddeon gieoge tto dwidorabwa
nega seo isseulkka bwa
biga naerimyeon heumppeog jeojeumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaesseo
geu son jabgo geoddeon gieoge tto dwidorabwa
nega seo isseulkka bwa
nan moreugesseo sesang
saraganeun ge
neul dareun nugul chajneun il inji
keopi hyang gadeughan i gil chajaomyeo
geujeya jogeum useossdeon naya
cheoeum ieosseo geutorog nal tteollige han
sarameun neo ppun-ijanha
nuguboda deo sarangseuleobdeon nega wae
naegeseo tteonagassneunji
neul dareun nugul chajneun il inji
keopi hyang gadeughan i gil chajaomyeo
geujeya jogeum useossdeon naya
cheoeum ieosseo geutorog nal tteollige han
sarameun neo ppun-ijanha
nuguboda deo sarangseuleobdeon nega wae
naegeseo tteonagassneunji
oneul babocheoreom geu
jarie seo issneun geoya
biga naerimyeon heumppeog jeojeumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaesseo
geu son jabgo geoddeon gieoge tto dwidora bwa
nega seo isseulkka bwa
biga naerimyeon heumppeog jeojeumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaesseo
geu son jabgo geoddeon gieoge tto dwidora bwa
nega seo isseulkka bwa
geu jarieseo maeil
araga
jogeumssig byeonhaeganeun nae moseubeun
meon husnaren geujeo us-eojwo
jogeumssig byeonhaeganeun nae moseubeun
meon husnaren geujeo us-eojwo
nan haengboghae
oneul yeogin geu ttaecheoreom areumdauni
gwaenhi babocheoreom i jarie seo issneun geoya
biga naerimyeon heumppeog jeoj-eumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaess-eo
gwanghwamun i gireul dasi hanbeon dwidora bwa
nega seo isseulkka bwa
oneul yeogin geu ttaecheoreom areumdauni
gwaenhi babocheoreom i jarie seo issneun geoya
biga naerimyeon heumppeog jeoj-eumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaess-eo
gwanghwamun i gireul dasi hanbeon dwidora bwa
nega seo isseulkka bwa
[Indonesia]
Bagaimana harimu?
Tinggal beberapa hari lagi musim panas berakhir
Entah kenapa, aku merasa akhir – akhir ini sangat melelahkan
Ketika dedaunan berbuah warna di jalanan Gwanghwamun
Waktu itu, ketika aku kembali berani mengangkat kepala ini
Tinggal beberapa hari lagi musim panas berakhir
Entah kenapa, aku merasa akhir – akhir ini sangat melelahkan
Ketika dedaunan berbuah warna di jalanan Gwanghwamun
Waktu itu, ketika aku kembali berani mengangkat kepala ini
Kita seharusnya
tersenyum cerah bersama
Tapi, sekarang kita hanyalah dua orang asing
Dalam pelukanmu, disanalah duniaku
Selamat tinggal, untuk hari bahagiaku
Tapi, sekarang kita hanyalah dua orang asing
Dalam pelukanmu, disanalah duniaku
Selamat tinggal, untuk hari bahagiaku
Hari ini, seperti
orang bodoh aku berdiri disini
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana
Aku tidak tahu jika ternyata
arti hidup ini
Untuk selalu menemukan orang baru
Ketika aku tiba dijalan ini, seketika aroma kopi menyambutku
Dan saat itulah aku berani untuk tersenyum
Untuk selalu menemukan orang baru
Ketika aku tiba dijalan ini, seketika aroma kopi menyambutku
Dan saat itulah aku berani untuk tersenyum
Kau adalah orang
pertama yang membuatku gugup
Hanya kau seorang
Kau yang terlihat cantik dibanding siapapun
Tapi, kenapa kau meninggalkanku?
Hanya kau seorang
Kau yang terlihat cantik dibanding siapapun
Tapi, kenapa kau meninggalkanku?
Hari ini, seperti
orang bodoh aku berdiri disini
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana
Disini, akhirnya aku
sadar
Ternyata aku yang selama ini berubah
Dimasa yang akan datang, berikanlah aku satu senyuman
Aku bahagia
Karena hari ini, tempat ini indah seperti pada kenangan kita
Ternyata aku yang selama ini berubah
Dimasa yang akan datang, berikanlah aku satu senyuman
Aku bahagia
Karena hari ini, tempat ini indah seperti pada kenangan kita
Tanpa alasan, seperti
orang bodoh aku berdiri disini
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana
Kamis, 30 Juli 2015
cerpen karya Titis "mymemoriesofhe"
*My memories of he*
Karya : Titis
Nurkumala Sari
Sudah
banyak waktu berlalu di antara kita yang kita lalui di tempat ini. Sampai kini
aku tak pernah bosan datang meski dengan keadaan yang berbeda dari yang
dulu,meski kini tak ada lagi senyummu yang menyapaku.
Tokyo 24
desember 2005, @caffe yokhisiru
Musim dingin terasa hangat karena suasana natal yang meriah.
Semua orang merayakannya dengan penuh antusias termasuk kita. Aku bahagia karna
kita masih dapat bersama selama 4 tahun ini dan tetap mempercayai satu sama
lain. Sehari sebelum malam natal kita berencana untuk bertemu di tempat favorit
kita, caffe kecil ini. Tempat ini begitu istimewa karena kita bertemu pertama
kali di tempat ini.
Aku sengaja datang
lebih awal ke tempat ini untuk memberimu sebuah hadiah. Aku sudah menyiapkan
semuannya, kurasa sempurna. Sengaja aku pilih tempat dekat jendela agar bisa
melihat keindahan taman di sebrang gedung ini yang menawarkan keindahan musim
dingin. Aku duduk di depan kursimu. Hatiku begitu senang dengan keadaan kita.
Aku melihatmu dari kaca gedung ini di seberang sana sedang berlari
terburu-buru. Kamu begitu ceroboh tidak melihat jalan dengan benar dan kemudian
menabrak seorang nenek –nenek di depanmu. Aku terus memperhatikanmu, bagaimana
caramu meminta maaf pada nenek itu dan bagaimana nenek itu yang marah karena
ketidaksopananmu meminta maaf pada beliau. Aku tak bisa menahan tawaku ketika
nenek itu tanpa merasa segan menjewer telingamu di tempat umum dan memarahimu.
Ekspresi wajahmu sungguh lucu karena jeweran nenek tersebut. Aku masih
memperhatikanmu ketika kau melangkah meninggalkan nenek tersebut kemudian
berlari. Entah apa yang membuatmu terburu-buru dan menyebrangi jalan begitu saja tanpa memperhatikan
sekelilingmu, dan……
Shiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt..braggggghhhh…
Aku begitu terkejut, kejadian itu begitu tiba-tiba. Aku
bingung apa yang terjadi, mengapa banyak orang yang berlari ke tempatmu, dan
kenapa tiba-tiba datang ambulans. Aku tak bisa
memikirkan apa yang terjadi namun hatiku begitu sakit seperti ribuan
jarum ditanamkan di dalamnya.
Aku ingin berlari kesana , aku ingin tahu apa yang mereka
semua lakukan di tempatmu berlari tadi ,dan kenapa harus ada ambulans di sana ?
aku….
=======================***=================
Caffe yokhisiru 2008
Aku merasa begitu terluka dan tak sanggup lagi menahan
airmataku. Aku merasa badanku begitu sakit dan susah untuk berlari. Aku tak
bisa menggerakkan kaki dan seluruh badanku. Ada yang aneh saat aku melihat
diriku sendiri sedang berada di atas kursi roda. Dan….
“aku mohon jangan mencoba untuk pergi lagi, aku tak sanggup
melihatmu seperti ini”
Ada seseorang bersamaku ? siapa dia ? dan apa maksut
perkataannya ?
“s-siapa kamu ? “
“jangan mengingatnya lagi, aku mohon “
Siapa orang ini ? apa dia sudah gila, tiba-tiba memelukku
dan mengatakan hal-hal yang sulit di pahami.
“le-lepaskan aku, aku tidak mengenalmu. Dan aku tidak tahu
apa maksut perkataanmu. Maaf aku tidak
punya banyak waktu. Tolong lepaskan. Ada hal yang harus kulakukan. Ada hal yang
harus kucari tahu apa kebenarannya”
Pria ini melepaskan pelukannya padaku dan menatapku. Sorot
matanya mengisyaratkan luka yang begitu dalam. Dan entah kenapa aku merasa
begitu bersalah saat ku balik menatap matanya dan merasa begitu dekat dengan
orang ini
“aku tidak ingin menghalangimu pergi hanya saja aku ingin
melindungimu. Aku akan mengantarmu ke tempat yang ingin kau tuju”
Tanpa mendapat ijinku dia sudah mendorong kursi rodaku dan
membawaku keluar dari caffe ini. Aku hanya diam saat dia membantuku masuk ke
dalam mobilnya. Dan dia mulai menjalankannya ke suatu tempat yang entah belum
ku tahu kemana. Namun aku tetap mengikutinya dan entah mengapa aku
mempercayainya.
Butuh waktu yang lumayan lama sampai mobil ini berhenti. Aku
melihat kesekeliling dan menemukan hal yang aneh. Kenapa dia membawaku ke
pemakaman ?
“apa yang akan kau lakukan p-padaku ? di sini bukan tempat
yang ingin ku datangi “
“di sinilah tempat yang selalu ingin kau kunjungi”
Dia mendorong kursi rodaku ke dalam pemakaman dan berhenti
pada sebuah makam.
“di sinilah tempat yang selalu akan kau kunjungi dan makam
inilah tempat istirahat orang yang selalu kau cintai”
“a-apa maksutmu? Dan.. dan di nisan ini mengapa ada nama Tetsuhi
Kaji tertulis di atasnya. A-apa kau bermaksut… ?”
Aku tidak bisa mengerti dengan semua ini. Semuanya sungguh
abstrack. Pemakaman, tempat yang ingin ku kunjungi, orang yang ku cintai, dan
nisan bertuliskan nama Kaji?. kepalaku terasa begitu sakit.
“a-aku ti-dak me-nger-ti a-apa mak-sut-mu ?”
Aku tidak bisa menahannya, semua terasa berputar.
Kepalaku…..
“inilah alasan mengapa aku melarangmu untuk pergi,aku hanya
ingin melindungimu,aku tidak ingin kau mengingatnya dan menjadi sakit seperti
ini. Karna sungguh hatiku seperti tersayat belati melihatmu terluka. Aku
menyayangimu, NINA”
Gelap. Hanya itu yang dapat terlihat mataku, meski aku masih
dapat mendengar suaranya. Terdengar samar tapi aku tahu dia baru saja memanggil
namaku.
“aku tidak takut dirimu melupakanku, yang ku takutkan adalah
kamu terluka seperti ini. Karena aku suamimu, kamu adalah tanggung jawabku dan kamu adalah bagian dari
hidupku. Tak akan ku biarkan kamu menderita sendiri”
===============****======================
Masih di
tempat yang sama namun dengan keadaan yang berbeda. Tidak akan ada lagi
tawamu yang dapat ku lihat. Namun ada
senyum seseorang yang menggantikanmu,senyumnya. Dia yang menggenggam tanganku
saat aku tak bisa meraih tanganmu, dia yang memelukku saat aku menangis karena
mengingatmu, dia yang melindungiku saat aku terluka karena kehilanganmu, dia
yang selalu bersamaku. Ada satu penyesalanku atas dirinya, mengapa aku selalu
melupakannya ? dan aku merasa begitu bersalah saat ku tatap kedua bola matanya.
Di dalam sana aku melihat kepedihan, kekecewaan yang rapat dia tutupi dariku.
Dia yang mengerti penderitaanku adalah seorang yang lebih menderita dariku.
Bagaimana dia bisa bertahan selama ini dengan kekuranganku ?bagaimana dia bisa
bertahan selama ini dengan aku yang melupakannya ?
Aku ingin
mengulangnya, waktu yang telah kami lalui dengan penderitaan, waktu yang ku
lalui bersamnya dengan tetap mengingatnya sebagai suami dan kekasihku
Aku ingin
melupakanmu dan merelakanmu dialam sana
Caffe yokhisiru 2005
Aku berlari dengan sekuat yang aku bisa, tidak peduli dengan
orang –orang yang marah karena tertabrak olehku. Aku tidak peduli dengan semua
yang ada di sekitarku yang ku inginkan hanya secepat mungkin sampai ke
tempatmu. Aku masih terus berlari saat ambulans dan orang- orang yang berada di
sekitarmu mulai pergi. Nafasku terasa tercekat saat aku melihat ada begitu
banyak darah, tubuhku tak bisa bergerak dan rasanya aku tak bisa bernafas
dengan bebas. Sesak dalam dadaku dan aku tidak bisa mengingat apa- apa saat ada
suara sirine kendaraan yang melintasiku.
*end of story*
catatan penulis :
Nina Sakurai sebagai tokoh aku dalam cerita ini adalah
seorang gadis yang telah memiliki hubungan dengan seorang pria bernama
Tetsuhi Kaji “kamu”. Mereka telah
berhungan selama 4 tahun. Mereka
berjanji bertemu di sebuah cafe favorit mereka namun sebuah kecelakaan
terjadi yang merrengut nyawa Kaji.
Selang beberapa saat, ketika Nina dating ke tempat di mana Kaji kecelakaan hal
yang sama pula terjadi pada Nina. Namun Nina masih beruntung karena kecelakaan
tersebut tidak sampai merenggut nyawanya . Dia mengalami lumpuh pada seluruh badannya
dan mengalami amnesia. Hal yang dia ingat hanyalah ketika dia melihat
kecelakaan yang terjadi Kaji. Di saat keterpurukannya dan keterbatasannya,
teman masa kecil Nina “dia” yang sangat mencintainya dan mau mengobati luka
Nina. “dia” akhirnya menikahi Nina untuk melindunginya. Tokoh “dia” di sini
bernama Stujiai Riko.
Senin, 27 Juli 2015
PUISI GUNDAHKU_Februari
Ku hitung bintang di langit hitam di atas sana
Namun jemariku tak cukup untuk gambarkan angkanya
Begitu banyak , begitu indah dengan rupa yang mempesona
Ia percikkan bahagia dengan terangnya
Hadirkan mimpi indah di setiap kilau sinarnya
Tak seperti diriku yang nampak lesu dan redup
Layaknya bintang yang cacat
Layu , tak bersinar , tak seperti dulu
Ku pijak bumi dengan kaki telanjang
Rasakan dinginnya rerumputan yang tumbuh
Menggigil , di terpa sang bayu malam yang menusuk
Namun tiada sakit menusuk tulang kuyuku
Tiada senyum yang dapat ku lengkungkan di sudut bibir
Terasa kaku untuk sekedar bersenggama dengan langit malam
Sedikit sulit , namun juga tak mudah
Perlahan – lahan tersungkur dalam kehampaan ini
Bulan nampak tersenyum palsu
Tersirat keberatan menatap sesosok manusia di bawahnya yang tlah putus asa
Bahkan bintangpun seperti tak sudi menatap jiwa yang merana
Bulan februari tahun lalu
Cerita indah yang terlewati
14 februari setahun yang lalu
Keceriaan yang lama terbuang
Ku baca diary kecil setahun lalu
Tulisan tangan yang sedikit berantakan namun masih nampak berseni
Ku putar memory setahun lau
Meski pudar namun masih tampak jelas
Saat jemarinya yang kuat menggenggamku mulai melemas
Bola mata yang ingin slalu ku lihat mulai menutup
Senyum manis yang sangat ku rindukan mulai terkatup
Airmata yang ku sembunyikan waktu itu mulai mengalir
Dan tiada berhenti sampai kini
Seperti kapal yang telah kehilangan nahkoda
Tak terarah yang kadang menabrak karang
Sampai tak pernah bisa berlayar lagi
Layaknya seperti layang-layang yang terputus dari benangnya
Terbang tak terkendali terbwa arus angin
Tak ada seorangpun yang bisa menggapainya
Terlalu jauh dan tinggi namun akan tercabik angin kesengsaraan
Dan akan terjatuh tak berguna yang tak kan pernah di peulikan lagi
Aku tersesat tanpamu mataku
Dunia terasa smakin meremang dengan cahaya pudarnya
Saat lentera kecil kehidupanku tak lagi bersinar
Semakin kehilangan kenangan yang telah ku genggam sejak lama
Izinkan aku menemanimu lagi
Izinkan aku kembali di sampingmu
Dunia telah mengusirku ,
hanya dirimu , hanya dirimu sandaranku
Langganan:
Postingan (Atom)