Minggu, 31 Juli 2016

 Lirik Lagu NCT 127 – 

Taste The Feeling 

[Jaehyun] It feels good Naui yeonghoneul kkaeuneun jjarithan sori I sunganeun meomchuji anha [Haechan] Eum urin Meotjin padowa kokakollawa hamkkemyeon Amugeotdo piryochin anha
[Taeil] I sungan Feel Forever Hamkke neukkyeobollae Feel Together Yeah
No one can stop meomchul su eoptneun Feeling Nohchigo sipji anheun i mat No one can stop meomchul su eoptneun Feeling Nohchigo sipji anheun i neukkim
[Mark] It feels good Meotjin haebyeongwa kokakollawa hamkkemyeon Nae gaseumdo tteugeowojyeo [Haechan] Yeah My love Gyeote itneun geotmaneuro haengbogeul neukkyeo Neoneun nal noraehage hae
[Taeil] I sungan Feel Forever Hamkke neukkyeobollae Feel Together Yeah
No one can stop meomchul su eoptneun Feeling Nohchigo sipji anheun i mat No one can stop meomchul su eoptneun Feeling Nohchigo sipji anheun i neukkim
[Taeil/Jaehyun] Banjjagin byeoldeul wie [Taeil/Jaehyun] Uriui kkumdeureul [Taeil/Jaehyun] Hanassik sureul nohgo du nune dama
[Taeil] Ireoke Feel Forever (Ireoke Forever) [Jaehyun] Neowa na Together (Neowa na Together) [Haechan] Yeongwonhi Forever (Yeongwonhi Forever) [Taeil] Geurae Real Together
No one can stop meomchul su eoptneun Feeling Mohchigo sipji anheun i mat ([Taeil] Nothing) No one can stop meomchul su eoptneun feeling ([Taeil] When I taste the feeling) Nohchigo sipji anheun i neukkim
No one can stop meomchul su eoptneun Feeling Nohchigo sipji anheun i mat No one can stop meomchul su eoptneun Feeling Nohchigo sipji anheun i neukkim

 

Senin, 23 Mei 2016

Lirik dan Terjemahannya Kun Anta Humood AlKhudher

 Kalian pasti tahu dong lagu yang di bawakan oleh Humood Alkhuder yang berjudul kun anta. Pertama denger dan tahu lagu ini dari temen yang nge tag di fb, di videonya itu di cover sama seorang ukhti sih, tapi keren kog. Mulai dari sini aku jadi seneng denger lagunya dan mulai nyari2 tahu liriknya. Nah buat kalian yang juga sama suka lagu ini , aku share deh liriknya,,,, hehe :)

Kun Anta - Humood AlKhudher


 لأجاريهم، قلدت ظاهر ما فيهم
Liujarihim, qoldat tu zohiru ma fihim
Ketika ingin bersaing dengan yang lain, aku ingin meniru perwatakan luar dan dalamnya.
فبدوتُ شخصاً آخر، كي أتفاخر
Pabadautu shakhson a-khar, kai atafa-khar,
Jadi aku boleh jadi seorang yang lain hanya untuk berbangga
و ظننتُ أنا، أنّي بذلك حُزْت غنى
Wa zonan tu ana, anni bizalika huztu ghina,
dan aku sangka jika aku lakukan seperti itu aku akan dapat kelebihan
فوجدتُ أنّي خاسر، فتلك مظاهر
Fawajad tu anni kha-sir, fatilka mazohir,
Tetapi yang kuperolehi hanyalah kerugian di atas perwatakanku ini.


لا لا لا نحتاج المال
La la, La nahtajul ma-la,
Kita tidak memerlukan harta 
كي نزداد جمالا
Kai nazdada jama-la,
untuk menambahkan kecantikan,
جوهرنا هنا
Jauharna huna,
 kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini
 في القلب تلالا
Fi qalbi talala,
 di dalam hati ia bersinar.

,لا لا نرضي الناس بما لا
La la, Nurdhin nasi bima-la,
kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang tidak ada,
,نرضاه لنا حالا
Nardhohu la na ha-la,
 yang tidak sesuai dengan kita,
,ذاك جمالنا 
Za-ka jamaluna,
 itulah kecantikan kita,
يسمو يتعالى
Yasmu yataa’la
 semakin bertambah hingga ke atas.
كن أنت تزدد جمالاً
Kun anta tazdada jamala
Jadilah diri kamu sendiri pasti akan menambahkan lagi kecantikan yang sedia ada
أتقبّلهم، الناس لست أقلّدهم
Attaqabbalhum, anna-su lastu qalliduhum,
Sungguh aku menerima mereka tetapi tidak pula aku meniru perwatakan mereka
 إلا بما يرضيني، كي أرضيني
Illa bima yurdhi-ni, kai urdhi-ni,
melainkan apa yang aku terima itu aku telah ridha.
سأكون أنا، مثلي تماما هذا أنا
Sa akunu ana, mithli tamaman hazana,
 aku ingin menjadi seperti diri aku sendiri inilah aku
فقناعتي تكفيني، ذاك يقيني
Fakona a’ti takfini, za-ka yaqi-ni,
 hal ini kurasakan sudah cukup dan aku sangat pasti

لا لا لا نحتاج المال
La la, La nahtajul ma-la,
Kita tidak memerlukan harta 
كي نزداد جمالا
Kai nazdada jama-la,
untuk menambahkan kecantikan,
جوهرنا هنا
Jauharna huna,
 kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini
 في القلب تلالا
Fi qalbi talala,
di dalam hati ia bersinar.

,لا لا نرضي الناس بما لا
La la, Nurdhin nasi bima-la,
kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang tidak ada,
,نرضاه لنا حالا
Nardhohu la na ha-la,
 yang tidak sesuai dengan kita,
,ذاك جمالنا 
Za-ka jamaluna,
 itulah kecantikan kita,
يسمو يتعالى
Yasmu yataa’la
 semakin bertambah hingga ke atas.
كن أنت تزدد جمالاً
Kun anta tazdada jamala
Jadilah diri kamu sendiri pasti akan menambahkan lagi kecantikan yang sedia ada


سأكون أنا، من أرضى أنا، لن أسعى لا لرضاهم
Saakunu ana, man ardho ana, lan asa’ la liri dhohum,
Aku akan jadi mengikut kemampuan diriku aku tidak perlukan orang lain menerimaku
 وأكون أنا، ما أهوى أنا، مالي وما لرضاهم
Waakunu ana, ma ahwa ana, ma-li wama liridhohum,
aku akan jadi apa yang aku suka kenapa aku perlu peduli tentang penerimaan mereka terhadapku
سأكون أنا، من أرضى أنا، لن أسعى لا لرضاهم
Saakunu ana, man ardho ana, lan asa’ la liri dhohum,
Aku akan jadi mengikut kemampuan diriku aku tidak perlukan orang lain menerimaku
 وأكون أنا، ما أهوى أنا، مالي وما لرضاهم
Waakunu ana, ma ahwa ana, ma-li wama liridhohum,
aku akan jadi apa yang aku suka kenapa aku perlu peduli tentang penerimaan mereka terhadapku


لا لا لا نحتاج المال
La la, La nahtajul ma-la,
Kita tidak memerlukan harta 
كي نزداد جمالا
Kai nazdada jama-la,
untuk menambahkan kecantikan,
جوهرنا هنا
Jauharna huna,
 kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini
 في القلب تلالا
Fi qalbi talala,
 di dalam hati ia bersinar.

,لا لا نرضي الناس بما لا
La la, Nurdhin nasi bima-la,
kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang tidak ada,
,نرضاه لنا حالا
Nardhohu la na ha-la,
 yang tidak sesuai dengan kita,
,ذاك جمالنا 
Za-ka jamaluna,
 itulah kecantikan kita,
يسمو يتعالى
Yasmu yataa’la
 semakin bertambah hingga ke atas.
كن أنت تزدد جمالاً
Kun anta tazdada jamala
Jadilah diri kamu sendiri pasti akan menambahkan lagi kecantikan yang sedia ada

Oke guys segitu liriknya, ayo nyanyi bareng-bareng

Sabtu, 21 Mei 2016

Hujan Telah Berhenti



“Hujan Telah Berhenti”
‘Aku membenci hujan karena hujan adalah airmata, karena hujan adalah kesedihan langit, karena hujan membuat aku tersenyum dan menangis bersamaan, karena hujan menyembunyikan diriku, karena hujan adalah hal yang sangat dia kagumi’
21 maret 2016
Pria itu terlelap dalam kedamaian, dengkuran halus samar-samar terdengar dari bibirnya yang sedikit menyunggingkan senyum. Kebahagian terpatri dengan jelas di wajahnya. Lengan kekarnya melingkar possesif pada tubuh mungil di sampingnya, menyimpannya dalam dekapan erat pada dada bidangnya yang tertutupi kaos putih polos.
Terusik dengan cahaya yang mulai masuk dari celah korden yang sedikit tersingkap, dua tubuh yan saling berdekapan tersebut perlahan begerak. Kedua retina sedikit menyipit mendapati cahaya yang terlalu silau untuk mata yang baru saja terbuka dari lelapnya.
“Arrrrrggghhh, matikan lampunya. Aku ngantuk tahu, tidak tahu apa besok aku ada wawancara kerja. Kalau telat gimana?. Kao cepat matiin. ugh”
Omel sosok kecil yang merasa tidurnya terganggu dengan cahaya yang masuk ke kamar. Sang pria berusaha bangun dari posisi tidurnya, sedikit menyesuaikan irisnya dengan cahaya dia membuka matanya perlahan. Tersadar matahari sudah meninggi pria itu segera melihat jam weaker yang setia di atas meja, angka 07.45 tertera di sana. Oh astaga tidakkah manusia di sampingnya ini memiliki acara yang dia bilang penting, tapi masih setia bergelung dalam selimut.
“Kau bilang apa? besok? besokmu itu udah sekarang tahu. cepat bangun sana! hey tukang tidur”
Berusaha membangunkan manusia mungil di sampingnya dengan berbicara di dekat telinga dan menggoyangkan tubuh mungil itu pelan. Merasa tidak ada pergerakan, Kao nama pria itu mencoba menarik selimut wanita yang ia klaim tukang tidur itu paksa dengan sekali hentakan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah tubuh mungil dalam selimut berguling jatuh ke lantai.
“Kyaaaa….sakit. Kao apa yang kau lakukan. Kau menganggu tidurku”
Kao hanya nyengir kemudian menunjukkan jam weaker ke hadapan wanita mungil yang masih berngantuk ria.
“Pertemuan yang katamu akan kau hadiri bukankah jam 08.00 pagi, kau lihat jam berapa sekarang ? Cepat berdiri dan bersiap-siap”
Wanita mungil ini masih mengucek-ngucek matanya yang terlihat masih mengantuk. Setelah di rasa bisa di gunakan untuk melihat, matanya langsung di gunakan untuk melihat jam weaker yang di tunjukan oleh pria di depannya. Sedikit menyipit kemudian berusaha mencerna kalimat yang juga di ucapkan oleh pria di depannya.
1… Masih lemot mikir
2… Retinanya mulai terbuka lebar
3… Dan….
“HUUAAAAA…..KAO KENAPA KAU TAK MEMBANGUNKAN AKU HAA!!! INI 15 MENIT LAGI. HUAAA”
Sreeettt,Braakkk,Bugh. Hadiah yang di berikan sang wanita di pagi hari. Tendangan kuat yang mengarah ke perut. Ah…. itu adalah kebiasaan si wanita. Bisa di bilang salam cinta.
“Awww, bisakah kau hilangin kebiasaanmu menghajar orang di pagi hari. sakit tahu!!”
Kao mengaduh saat merasakan tendangan di perutnya, pelakunya hanya masa bodoh dan bergegas ke kamar mandi karena deadline yang akan di laksanakan 15 menit lagi.
Ini salahnya, salah si bodoh kepala besar itu. Coba saja dia tidak mengajak taruhan siapa yang paling kuat bertahan bergadang, gak akan begini jadinya. sial,sial, sial dasar Kao bodoh.
Gadis itu masih sempat mengomel dalam hatinya.
++++
Alexander Kao adalah pria berusia 29 tahun, seoarang dokter muda yang berbakat, punya banyak prestasi, dan yang oh so wow adalah wajah tampan nya dengan garis rahang yang tegas yang bikin banyak siti hawa tak bisa mengedipkan mata. Postur tubuh yang atletis menambah kesan maskulin padanya. Namun, dari sekian banyak wanita yang berlomba-lomba untuk dapat berada dalam hati pria ini, hanya satu yang mampu memenangkannya yaitu wanita yang lebih muda 6 tahun darinya yang sekarang telah resmi menjadi nyonya alexander.
“KAOOO, cepat anterin aku!”
15 menit adalah waktu yang terlalu singkat untuk seseorang yang baru saja bangun tidur untuk bersiap pergi ke tempat kerja, maka dengan persiapan seadanya-baca: gosok gigi, cuci muka, ganti pakaian formal dan mambawa CVnya- nyonya Alexander dengan tergesa-gesa berangkat ke calon tempat kerjanya.
Kawasaki Ninja 250R Fi terparkir indah di dapan halaman rumah keluarga Alexander dengan sopir yang menaikinya terlihat gagah dengan setelan jaket kulit hitamnya. Senyum atau lebih tepatnya di katakan seringai terpasang pada wajah tampannya. Dengan gaya bak seoarang pembalap ia melirik istrinya.
“Siap tuan putri. Tidak bisakah tuan putriku ini meminta dengan tidak berteriak ?hmm”
“WHAT!. Oh oke sekarang kau mau aku mati kena serangan jantung dengan menaiki ‘itu’ bersamamu ? no no no lebih baik aku berangkat sendiri. Bye K-A-O 
“Hey kau mau kemana tuan putri, tuan putriii….”
Kao terpaksa membiarkan ‘tuan putrinya’ berangkat menggunakan taxi, karena istri tercintanya tersebut tidak percaya-ralat-tidak akan pernah percaya bahwa dirinya dapat mengendarai motor. Meski ada raut kekecewaan pada wajahnya tapi dia tetap tersenyum, yaa begitulah sifat istrinya. Dia akhirnya kembali memasukkan motornya ke dalam bagasi kemudian kembali kedalam rumah dan mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaanya sebagai dokter.
Bisa di bilang meraka adalah keluarga yang romantis (tapi romantisnya di mana yaaa, penulis juga sebenernya gak tahu, hehehe).
====================================+++++++==========================================
‘Aku mengagumi dan menyukai hujan. Langit menjadi teduh dan damai  dengan music yang tercipta dari rintikannya. Aku menyukai suara percikan airnya yang menyentuh bumi, menyukai rasa dingin yang timbul setelah terguyur, dan meleburkan rinduku bersama air yang mengalir pada dirinya’
21 maret 2015
Bukan ada pertunjukan atau pameran yang sedang di gelar, bukan pula ada sebuah pesta yang di adakan di kediaman kami. Bahkan aku baru saja mendapat kabar, ada seseorang di sana yang sedang terbaring sakit. Aku baru saja sampai di depan pagar, ketika melihat orang-orang berpakaian serba hitam keluar masuk di kediaman ini, rumah keluarga Petrick. Aku masuk ke dalam rumah seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang terjadi. Bingung karena melihat orang-orang itu tidak sedikit yang menangis, aku segera masuk ke dalam rumah untuk menanyakannya.
“Anakku yang sabar ya, cepat temui ayahmu”
Bibi Arumi, adik dari ibuku. Dia menepuk pundakku pelan, kemudian memelukku. Aku bertanya-tanya apa gerangan yang bisa membawa bibi Arumi yang rumahnya begitu jauh mengunjungi kami, yang ku  tahu sudah beberapa tahun bibi ini tidak pernah lagi mengunjungi kami. Selain pertanyaan itu sebernarnya yang paling ingin ku tanyakan adalah apa maksut perkataannya dan kenapa aku melihat bibi baru saja menangis. Aku menurutinya untuk segera menemui ayahku, yang kata ibu sedang terbaring sakit tadi di telephon. Aku baru ingat mungkin karena ayah sedang sakit sehingga bibi menjenguknya ke sini, masuk akal. Ah mungkin penyakit darah tinggi ayah kambuh lagi, huh dasar ayah mungkin dia mengkonsumsi daging lagi. Akan ku marahi dia nanti setelah bertemu.
Tidak butuh waktu lama untuk berjalan ke ruang utama, aku sudah di depan pintu soji yang menghubungkan aku dengan ruang utama di dalam. Pertama yang ku lihat setelah membuka pintu adalah seseorang yang sedang memberi penghormatan terakhir pada…
‘Kakek ? dan orang yang sedang memberi penghormatan itu adalah paman Jack, dan ibu, kakak, bahkan kakak ipar ? kenapa mereka berdiri berjajar dengan pakaian hitam. Dan di samping mereka, bukankah itu bunga yang di peruntukan bagi seseorang yang telah meninggal dunia ?’
“Ibu…. di mana ayah?”
Aku melihat sekeliling dan tidak melihat keberadaan ayah di mana-mana. Apa ayah sedang berada di rumahsakit ? ku rasa tidak mungkin sedangkan ibu berada di sini. Ibu hanya menatapku sendu saat aku bertanya seperti itu, tidak terlalu lama kemudian ibu menunduk dan terdengar isakan dari bibirnya. Aku tidak mengerti apa yang membuat ibuku bisa sampai menangis seperti itu.
“Ibu, apa yang….”
Ibu melirik sebuah peti di depan paman Jack, aku tidak dapat melanjutkan kalimatku ketika aku melihat di dalam peti tersebut. Ayah sedang terbaring di sana, mengenakan pakaian terbaiknya dengan wajah damai dan senyuman. Tidak aku pungkiri, ayah terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Aku tersenyum melihat ayah yang semakin tampan. Dia adalah ayahku yang paling ku cinta di dunia ini, orang yang sangat berharga selain ibu. Ah kalo di bilang sih aku lebih dekat dengan ayah di banding dengan ibu.
‘Ayah tahu? ayah hari ini terlihat sangat tampan. Ayah tidur sangat nyenyak, tapi apa ayah tidak mau melihat putri bungsu ayah yang cantik ini ? Ayo bangun ayah’
Aku ingin segera memeluk ayah, dan mendapatkan kata-kata yang selalu menjadi kesukaanku “putri kecil ayah yang cantik sedang bahagia ya hari ini, apa karena ayah ?”. Meskipun aku bukan anak kecil lagi aku selalu di perlakukan ayah seolah aku masih putri kecilnya yang dulu. Hal itulah yang ku sukai dari ayah. Aku menghampiri ayah, memegang tangannya berusaha membangunkannya. Tangan ayah sangat dingin dan begitu pucat.
“Apa yang kau lakukan nak ?”
“Tentu saja menyapa ayah seperti biasa ibu, dan kurasa aku harus membangunkan ayah untuk menghibur ibu supaya berhenti menangis. Ibu itu aneh, kenapa mnangis tanpa sebab ?”
Aku masih memegang tangan ayah dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sudah beberapa kali aku memanggil ayah, tapi ayah masih saja bergeming. Aku tidak mengerti, kenapa ayah tidur lelap sekali. Aku tidak mengerti, kenapa kedua mataku menjadi panas. Aku tidak mengerti, kenapa ada rasa sakit yang terasa di hatiku. Aku menangis, Ibu.
“Ayahmu…sudah pergi ke surge nak”
Suara parau ibu terdengar seperti halilintar dalam pendengaranku. Sesaat seperti hujan sedang turun dalam hatiku. Aku teringat sebuah cerita fiksi yang sering di bacakan ayah sewaktu kecil dulu, seorang putri yang selalu ceria yang sangat menyayangi ayahnya. Suatu saat ayah sang putri harus meninggalkan dunia, dan meninggalkan sang putri. Putri yang selalu ceria tersebut berubah menjadi pendiam dan selalu murung. Ah aku tidak tahu apa kelanjutan kisah dari cerita ini.  Apakah ayah sedang membuat drama dari kisah ini untuk menunjukkan akhir dari ceritanya ? Ku akui jika darma yang di perankan oleh keluargaku dan orang-orang yang di sini cukup mengagumkan. Aku tidak tahu jika keluargaku bisa acting sebagus ini.
prok prok prok prok prok
Aku memberikan tepuk tangan terbaikku kepada mereka semua. Mereka sudah bekerja keras dan aku harus menghargai mereka. Tapi ku rasa saatnya mengakhir drama ini karena aku tidak mau berlama-lama melihat keadaan ayah sepeti seorang yang meninggal. Cukup sudah aku ingin mendengar suara ayah dan jenaka ayah seperti biasanya.
“Wah, tidak ku sangka kalian begitu hebat dalam hal acting. Ibu tadi keren banget. Tapi aku rasa sudah cukup drama nya. Ayah ayo cepat bangun, sudah selesai lo dramanya”
Kakak yang sedari tadi hanya diam kini memelukku, sudah lama sepertinya aku tidak di peluk dia setelah punya istri. Ah aku jadi terharu sampai airmataku ini sulit untuk berhenti. Dadaku sesak kak, apa karena kakak memelukku terlalu erat ?
“Terima kenyataan adikku, ayah sudah kembali ke surga”
Setahuku aku tidak pernah punya kelainan jantung, tapi kenapa di dadaku rasanya sakit sekali. Aku sulit bernafas dan tubuhku mendadak lemah tak bertenaga. Aku masih mendengar ketika Ibu berteriak memanggil namaku, tapi volume suaranya semakin mengecil dan kenapa tiba-tiba dunia berubah atmosfer menjadi malam ?….
++++++
Gadis itu bernama Lucia Immanuel petrick, 23 tahun. Dia anak tunggal dari pasangan suami istri Immanuel dan Karin petrick. Sejak kecil dia tumbuh dengan limpahan kasih sayang orangtuanya yang menjadikannya gadis manja meski usianya kini sudah bukan anak kecil lagi. Di banding dengan ibunya, Lucia sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan saat usianya menginjak 15 tahun, gadis tersebut masih ingin tidur besama ayahnya. ‘Benar-benar gadis manja’ itu yang selalu di bilang ibunya saat lucia merajuk minta  ditemani ayahnya tidur. Hanya ayahnya yang bisa membuatnya berhenti menangis saat dia terjatuh waktu masih anak-anak dulu. Selalu ayahnya yang bisa membuatnya tersenyum lagi saat dirinya sudah mengenal patah hati karena cinta. Selalu ayahnya yang di andalkannya, Mr. Immanuel petrick yang kini telah berpulang ke tempat penciptanya.
Gadis itu tidak menemukan senyumnya lagi setelah kematian ayahnya 2 bulan lalu. Dia tidak pernah lagi membuka suaranya selama dua bulan itu dan tidak pernah melakukan apapun. Dirinya tampak seperti patung yang bernafas dengan selang infus dan oksigen sebagai penopang hidupnya.
 “Lucia..Ibu mohon…, jangan terus seperti ini.”
=============================================+++=====================================
‘Aku menemukanmu, di bawah langit yang sedang menangis. Mengguyur badanmu yang ringkih dan terlihat tak berdaya. Aku menatap wajahmu yang menengadah dan saat itu aku tahu bahwa kau sedang menangis. Aku iba, dan membawaku berjalan meraih bahumu. Tolong jangan pernah menangis lagi’
21 Mei 2015
“Bagaimana keadaannya dokter, putri saya, Lucia tidak terjadi hal buruk kan?”
Aku mendengar tanpa sengaja perkataan wanita setengah baya itu saat aku melewati ruangan dokter seniorku, wanita tersebut adalah ibu dari pasien yang bernama Lucia. Sudah dua bulan dia di rawat di sini dan kondisinya memprihatinkan. Bukan aku memang yang menanganinya, tapi sebagai sesama dokter pasti tahu keadaan setiap pasien kan ?.
Lucia adalah gadis yang cantik. Aku pernah beberapa kali mengunjungi ruangannya untuk melihat kondisi kesehatannya ketika di mintai tolong seniorku. Jika saja dia tersenyum, entah mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Yang aku dengar dari senior Lucia adalah pasien dengan gangguan psikis. Lucia tidak pernah melakukan hal apapun selama dua bulan ini kecuali hanya duduk dan termenung. Tubuhnya ringkih karena kesehatan yang kian menurun semakin hari. Ah andai aku tahu penyebabnya, aku akan membantunya untuk menyembuhkannya.
“Senior, boleh saya saja yang merawat Lucia. Saya ingin membantunya”
Aku mendatangi senior dan bermaksud untuk menggantikan beliau untuk merawat Lucia. Hatiku tergerak melihat keadaan gadis itu. Aku ingin merawatnya dan mengobatinya bukan hanya fisik namun juga hatinya. Mungkin, dengan begitu aku akan merasa lega.
‘Aku melihatmu,di bawah hujan yang begitu deras bersama airmatamu yang mengalir. Sungguh, aku ingin sekali menghentikan hujan’
“Saya akan berusaha dan menemukan cara mengobatinya”
 “Apa kau yakin kau bisa melakukannya. Pasien ini sudah dua bulan tidak menunjukkan perkembangan dalam artian baik namun malah mengalami penurunan. Apa kau snggup ? jika iya aku akan menyerahkannya padamu. Jujur saja aku sudah lelah di kejar-kejar ibu anak itu untuk menanyakan perkembangan anaknya.”
“Saya yakin bisa melakukannya”
“Baiklah. Kau bisa ambil catatan kesehatannya di ruanganku”
Aku bisa melakukannya seperti keyakinanku yang ku tunjukkan pada senior. Yang pertama harus aku lakukan adalah menyembuhkan psikisnya. Aku berbicara kepada ibunya mengenai depresi Lucia, terkejut akan semua yang di katakan ibu yang ku ketahui bernama Ny.Karin bahwa Lucia seperti ini karena ayahnya sudah tiada. Anak yang begitu menyayangi ayahnya.
Aku datang menemui Lucia. Dia hanya bergeming dalam posisi duduk menghadap jendela. Seperti saat itu di bawah guyuran hujan, airmata yang entah sudah berapa kali terjatuh itu menghiasi wajahnya. Dan sesaat aku merasakan perasaan seperti ‘itu’ lagi tapi segera ku tepis dan focus kembali pada tujuan awal datang ke ruangan Lucia. Aku berjalan mendekat ke arahnya sampai cukup untuk dapat mengobrol dengannya. Dia tetap bergeming tanpa menoleh, tapi kurasa dia menyadari kehadiranku.
“Lucia….” 
Aku memulainya, hal pertama yang ingin ku lakukan untuk menolongnya adalah mengajaknya berbicara selayaknya manusia normal lainnya. 
‘Debar jantung ini terasa aneh saat aku menatap matamu, jika ini kelainan jantung pasti aku mengetahuinya karena aku seorang dokter. Tapi aku merasa asing dengan debaran ini, rasanya tidak sakit namun nyaman’
“Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku. Aku alexander Kao dokter yang akan menanganimu ke depannya nanti. Mohon kerjasamanya.”
Lucia kini memejamkan matanya, sedikit ada respon untuk perkenalanku tadi.
“Ayahmu…”
Aku akan langsung membicarakannya. Aku tahu dia sangat sensitive jika mendengar kata ayah. Sengaja aku mengucapkan kata itu untuk menarik perhatiannya. Mungkin dia akan lebih merespon perkataanku.
“Aku turut berduka cita atas dirinya. Kau pasti putri yang sangat di sayanginya. Aku yakin sekarang ayahmu sedang memikirkanmu di surga sana. Bukankah sur-..”
Belum sempat aku menyelesaikan seluruh kalimatku Lucia lansung menutup telinganya. Isak tangis terdengar semakin keras.
“Tidak..tidak…TIDAAAAAAKKKKK…Ayahku ada di rumah, berhenti mengatakan seolah-olah ayahku sudah tiada. KAAAUUUU ORANG ASING TIDAK BERHAK BERKATA SEPERTI ITU. PERGI..PERGI..PERGIIIIII….”
Dia semakin histeris dan tak terkendali. Tubuhku bergerak sendiri memeluknya tapi dia berontak. Dia memukul wajahku dan menggigit tanganku. Sulit di percaya dengan keadaan seperti itu pukulannya cukup terasa sakit.
“LEPAS, LEPAS, LEPAS, LEPASKAN AKU”
Lucia semakin meronta dan memukulku beberapa kali, aku tak bisa menanganinya sendiri aku butuh bantuan.
“SUSTER, YANG DI LUAR. BISA TOLONG BANTU”
Dua suster sekaligus datang membantuku memegangi Lucia yang semakin histeris. Terpaksa aku menyuruh salah satu suster untuk menyiapkan obat bius dan menyuntikkannya ke Lucia. Akhirnya dia bisa tenang. Awal pendekatan yang buruk ku pikir. Lucia memang benar-benar sakit psikis.
Selang infus terpasang di tangan kurus Lucia, terlihat jelas bahwa asupan gizi yang selama ini di serap oleh tubuh itu hanya berasal dari botol infus. Aku mengamatinya sekian lama, wajah damai Lucia yang sedang terlelap begitu lembut. Pipi yang sedikit tirus, hidung mungil yang mancung, bibir tipis dan mata… ah seandainya aku dapat melihat matanya yang bersinar.
++++
Setelah seharian bekerja dan mengobati banyak pasien, akhirnya aku dapat beristirat dan menghirup udara selain bau obat di mana-mana. Aku melepas jas dokterku, menggantungnya di loker dan menggantinya dengan jaket yang ku miliki. Memastikasn barangku sudah terbawa semua aku bergegas pulang. Aku benar-benar letih. Dimulai dari menangani pasien yang terlalu banyak sampai kejadian di pukul oleh pasien gangguan psikis. Lucia…..Aku belum menjenguknya lagi setelah kejadian tadi sore, kurasa obat biusnya sudah hilang. Apa yang di lakukannya sekarang ?....
Aku yang sudah sampai di pintu keluar rumahsakit memutar arah kembali masuk kedalam. Ada yang tidak beres dengan kakiku yang bergerak sendiri. Ini di luar control sampai membawaku berlari ke ruang ini, ruang di mana gadis Petrick itu di rawat. Tepat di depan pintu bertuliskan Tulip no.15 aku berhenti. Jantungku berdebar cepat dan nafasku tersengal-sengal , mungkin efek dari berlari tadi. Tapi, debaran jantung ini berbeda, aku tahu itu. Sama seperti yang kurasakan saat pertema kali melihat gadis itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada jantungku sekarang. Tidak mempedulikan keadaan jantungku, aku membuka pintu ruang rawat ini perlahan.  Aku cukup terkejut saat tidak menemukan Lucia di ranjangnya. Namun merasa lega saat menemukan dia duduk di dekat jendela, mungkin itu kebiasaannya.
“Siapa ?”
Aku bergeming di tempat, benarkah itu Lucia yang berbicara. Bukankah selam dua bulan ini dia berhenti berbicara. Ada keajaiban apa sampai dia menyuarakan suaranya yang tertahan selama dua bulan ini. Bahkan ibunya sendiripun tidak bisa membuatnya berbicara lagi. Namun aku merasa bersyukur karena  Lucia mau berbicara lagi meskipun hanya beberapa kata.
“Ku bilang siapa?, apa kau tuli atau tidak bisa berbicara ?”
Dia memalingkan wajahnya menghadapku dan menatap mataku tajam. Apa ini gadis yang tadi histeris sampai memerlukan obat bius untuk membuatnya tenang?. Kurasa mustahil, seseorang dengan keadaan seperti tadi dapat menatapku seperti itu dan bicara normal. Sungguh aku tidak bisa memikirnya lebih jauh lagi.
“Eh….K-kau sudah bisa berbicara?”
Karena aku terkejut dengan apa yang di lakukannya barusan membuatku berbicara tergagap. Sungguh konyol, ini bukan gayaku yang biasanya.
“Kau pikir aku bisu? tentu saja aku bisa bicara. Aku memang tidak bicara selama dua bulan lebih tapi bukan berarti aku tidak bisa bicara. Kau ini seorang dokter yan menanganiku kan? apa tidak bisa mengetahui kondisiku. Oh… aku tahu, mungkin kau hanya dokter magang yang tidak tahu apa-apa soal pasien. Huh.. kurasa ibu salah memilih rumahsakit yang mempercayakan pasiennya ke orang seperti ini”
Aku hanya diam mencoba mencerna kata-kata yang baru saja Lucia lontarkan kepadaku. Kalimatnya terlalu panjang untuk bisa di cerna orang yang baru terkejut sepertiku. Tadi dia mengatakan seorang dokter magang, tidak tahu apa-apa tentang pasien, salah memilih rumahsakit, mempercayakannya pada orang seperti ini. Tunggu… yang dia maksud adalah aku dokter magang ?.
“A-apa katamu, aku dokter magang?”
Yang benar saja dia. Tapi aku sungguh penasaran, keajaiban apa yang membuatnya bisa normal kembali dan aku sungguh penasaran dengan sifat sesungguhnya gadis ini.
“Kurasa kau sudah mendengarnya tadi dan aku tidak perlu mengulanginya lagi. Kau tahu setelah dua bulan tidak mengeluarkan suara dan pertamakalinya berbicara lagi itu terlalu sulit, jadi jangan buat aku terlalu banyak bicara. Kau mengerti dokter magang?”
Hebat. Dia bilang bicara untuk pertama kalinya setelah dua bulan tidak mengeluarkan suara terlalu sulit di lakukan dan meminta untuk tidak membuatnya berbicara panjang. Tapi dia sendirikan yang berbicara panjang, dan aku tidak pernah menyuruhnya bebicara terlalu banyak. Dasar perempuan.
‘Mungkin aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi padaku, tapi aku sedikit tahu saat mendengar suaramu. Kurasa ini adalah perasaan seorang pria kepada wanita’
=======================================++++==========================================

Minggu, 20 September 2015

Lyric + Indonesian Translate Kyuhyun -At Gwanghwamun

Lyric + Indonesia Translate] KyuHyun – At Gwanghwamun (광화문에서)

Description: https://38.media.tumblr.com/a90139d6b8ac016d42abb76bec15c42d/tumblr_neutc4rVAi1qjph16o1_500.jpg
Title : at Gwanghwamun
Singer : Cho KyuHyun
Album : at Gwanghwamun
Tracklist : 1
Date Release :  2014
[Romanji]
neon eottaessneunji ajig yeoreumi nama
waenji nan jogeum jichyeossdeon haru
gwanghwamun garosu eunhaeng-ip muldeul ttae
geujeya gogael deur-eoss-eossna bwa
nuni busige banjjag ideon uri dureun
imi nami doe-eossjanha
ne pum aneseo sesangi nae geosieossdeon
cheol eobsdeon sijeoreun annyeong
oneul babocheoleom geu jalie seo issneun geoya
biga naerimyeon heumppeog jeojeumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaesseo
geu son jabgo geoddeon gieoge tto dwidorabwa
nega seo isseulkka bwa
nan moreugesseo sesang saraganeun ge
neul dareun nugul chajneun il inji
keopi hyang gadeughan i gil chajaomyeo
geujeya jogeum useossdeon naya
cheoeum ieosseo geutorog nal tteollige han
sarameun neo ppun-ijanha
nuguboda deo sarangseuleobdeon nega wae
naegeseo tteonagassneunji
oneul babocheoreom geu jarie seo issneun geoya
biga naerimyeon heumppeog jeojeumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaesseo
geu son jabgo geoddeon gieoge tto dwidora bwa
nega seo isseulkka bwa
geu jarieseo maeil araga
jogeumssig byeonhaeganeun nae moseubeun
meon husnaren geujeo us-eojwo
nan haengboghae
oneul yeogin geu ttaecheoreom areumdauni
gwaenhi babocheoreom i jarie seo issneun geoya
biga naerimyeon heumppeog jeoj-eumyeo
oji anhneun neoreul gidaryeo
naneun haengboghaess-eo
gwanghwamun i gireul dasi hanbeon dwidora bwa
nega seo isseulkka bwa


[Indonesia]
Bagaimana harimu?
Tinggal beberapa hari lagi musim panas berakhir
Entah kenapa, aku merasa akhir – akhir ini sangat melelahkan
Ketika dedaunan berbuah warna di jalanan Gwanghwamun
Waktu itu, ketika aku kembali berani mengangkat kepala ini
Kita seharusnya tersenyum cerah bersama
Tapi, sekarang kita hanyalah dua orang asing
Dalam pelukanmu, disanalah duniaku
Selamat tinggal, untuk hari bahagiaku
Hari ini, seperti orang bodoh aku berdiri disini
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana
Aku tidak tahu jika ternyata arti hidup ini
Untuk selalu menemukan orang baru
Ketika aku tiba dijalan ini, seketika aroma kopi menyambutku
Dan saat itulah aku berani untuk tersenyum
Kau adalah orang pertama yang membuatku gugup
Hanya kau seorang
Kau yang terlihat cantik dibanding siapapun
Tapi, kenapa kau meninggalkanku?
Hari ini, seperti orang bodoh aku berdiri disini
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana
Disini, akhirnya aku sadar
Ternyata aku yang selama ini berubah
Dimasa yang akan datang, berikanlah aku satu senyuman
Aku bahagia
Karena hari ini, tempat ini indah seperti pada kenangan kita
Tanpa alasan, seperti orang bodoh aku berdiri disini
Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan
Menunggumu, kau yang pasti tidak akan datang
Aku bahagia
Ketika mengingat kenangan
Kita yang berjalan sambil berpegangan tangan
Aku berbalik ke belakang, berharap kau berdiri disana



Kamis, 30 Juli 2015

cerpen karya Titis "mymemoriesofhe"

*My memories of he*

Karya : Titis Nurkumala Sari
Sudah banyak waktu berlalu di antara kita yang kita lalui di tempat ini. Sampai kini aku tak pernah bosan datang meski dengan keadaan yang berbeda dari yang dulu,meski kini tak ada lagi senyummu yang menyapaku.
Tokyo 24 desember  2005, @caffe yokhisiru
Musim dingin terasa hangat karena suasana natal yang meriah. Semua orang merayakannya dengan penuh antusias termasuk kita. Aku bahagia karna kita masih dapat bersama selama 4 tahun ini dan tetap mempercayai satu sama lain. Sehari sebelum malam natal kita berencana untuk bertemu di tempat favorit kita, caffe kecil ini. Tempat ini begitu istimewa karena kita bertemu pertama kali di tempat ini.
 Aku sengaja datang lebih awal ke tempat ini untuk memberimu sebuah hadiah. Aku sudah menyiapkan semuannya, kurasa sempurna. Sengaja aku pilih tempat dekat jendela agar bisa melihat keindahan taman di sebrang gedung ini yang menawarkan keindahan musim dingin. Aku duduk di depan kursimu. Hatiku begitu senang dengan keadaan kita. Aku melihatmu dari kaca gedung ini di seberang sana sedang berlari terburu-buru. Kamu begitu ceroboh tidak melihat jalan dengan benar dan kemudian menabrak seorang nenek –nenek di depanmu. Aku terus memperhatikanmu, bagaimana caramu meminta maaf pada nenek itu dan bagaimana nenek itu yang marah karena ketidaksopananmu meminta maaf pada beliau. Aku tak bisa menahan tawaku ketika nenek itu tanpa merasa segan menjewer telingamu di tempat umum dan memarahimu. Ekspresi wajahmu sungguh lucu karena jeweran nenek tersebut. Aku masih memperhatikanmu ketika kau melangkah meninggalkan nenek tersebut kemudian berlari. Entah apa yang membuatmu terburu-buru dan menyebrangi  jalan begitu saja tanpa memperhatikan sekelilingmu, dan……
Shiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt..braggggghhhh…
Aku begitu terkejut, kejadian itu begitu tiba-tiba. Aku bingung apa yang terjadi, mengapa banyak orang yang berlari ke tempatmu, dan kenapa tiba-tiba datang ambulans. Aku tak bisa  memikirkan apa yang terjadi namun hatiku begitu sakit seperti ribuan jarum ditanamkan di dalamnya.
Aku ingin berlari kesana , aku ingin tahu apa yang mereka semua lakukan di tempatmu berlari tadi ,dan kenapa harus ada ambulans di sana ? aku….
=======================***=================
Caffe yokhisiru 2008
Aku merasa begitu terluka dan tak sanggup lagi menahan airmataku. Aku merasa badanku begitu sakit dan susah untuk berlari. Aku tak bisa menggerakkan kaki dan seluruh badanku. Ada yang aneh saat aku melihat diriku sendiri sedang berada di atas kursi roda. Dan….
“aku mohon jangan mencoba untuk pergi lagi, aku tak sanggup melihatmu seperti ini”
Ada seseorang bersamaku ? siapa dia ? dan apa maksut perkataannya ?
“s-siapa kamu ? “
“jangan mengingatnya lagi, aku mohon “
Siapa orang ini ? apa dia sudah gila, tiba-tiba memelukku dan mengatakan hal-hal yang sulit di pahami.
“le-lepaskan aku, aku tidak mengenalmu. Dan aku tidak tahu apa maksut  perkataanmu. Maaf aku tidak punya banyak waktu. Tolong lepaskan. Ada hal yang harus kulakukan. Ada hal yang harus kucari tahu apa kebenarannya”
Pria ini melepaskan pelukannya padaku dan menatapku. Sorot matanya mengisyaratkan luka yang begitu dalam. Dan entah kenapa aku merasa begitu bersalah saat ku balik menatap matanya dan merasa begitu dekat dengan orang ini
“aku tidak ingin menghalangimu pergi hanya saja aku ingin melindungimu. Aku akan mengantarmu ke tempat yang ingin kau tuju”
Tanpa mendapat ijinku dia sudah mendorong kursi rodaku dan membawaku keluar dari caffe ini. Aku hanya diam saat dia membantuku masuk ke dalam mobilnya. Dan dia mulai menjalankannya ke suatu tempat yang entah belum ku tahu kemana. Namun aku tetap mengikutinya dan entah mengapa aku mempercayainya.
Butuh waktu yang lumayan lama sampai mobil ini berhenti. Aku melihat kesekeliling dan menemukan hal yang aneh. Kenapa dia membawaku ke pemakaman ?
“apa yang akan kau lakukan p-padaku ? di sini bukan tempat yang ingin ku datangi “
“di sinilah tempat yang selalu ingin kau kunjungi”
Dia mendorong kursi rodaku ke dalam pemakaman dan berhenti pada sebuah makam.
“di sinilah tempat yang selalu akan kau kunjungi dan makam inilah tempat istirahat orang yang selalu kau cintai”
“a-apa maksutmu? Dan.. dan di nisan ini mengapa ada nama Tetsuhi Kaji tertulis di atasnya. A-apa kau bermaksut… ?”
Aku tidak bisa mengerti dengan semua ini. Semuanya sungguh abstrack. Pemakaman, tempat yang ingin ku kunjungi, orang yang ku cintai, dan nisan bertuliskan nama Kaji?. kepalaku terasa begitu sakit.
“a-aku ti-dak me-nger-ti a-apa mak-sut-mu ?”
Aku tidak bisa menahannya, semua terasa berputar. Kepalaku…..
“inilah alasan mengapa aku melarangmu untuk pergi,aku hanya ingin melindungimu,aku tidak ingin kau mengingatnya dan menjadi sakit seperti ini. Karna sungguh hatiku seperti tersayat belati melihatmu terluka. Aku menyayangimu, NINA”
Gelap. Hanya itu yang dapat terlihat mataku, meski aku masih dapat mendengar suaranya. Terdengar samar tapi aku tahu dia baru saja memanggil namaku.
“aku tidak takut dirimu melupakanku, yang ku takutkan adalah kamu terluka seperti ini. Karena aku suamimu, kamu adalah  tanggung jawabku dan kamu adalah bagian dari hidupku. Tak akan ku biarkan kamu menderita sendiri”
===============****======================
Masih di tempat yang sama namun dengan keadaan yang berbeda. Tidak akan ada lagi tawamu  yang dapat ku lihat. Namun ada senyum seseorang yang menggantikanmu,senyumnya. Dia yang menggenggam tanganku saat aku tak bisa meraih tanganmu, dia yang memelukku saat aku menangis karena mengingatmu, dia yang melindungiku saat aku terluka karena kehilanganmu, dia yang selalu bersamaku. Ada satu penyesalanku atas dirinya, mengapa aku selalu melupakannya ? dan aku merasa begitu bersalah saat ku tatap kedua bola matanya. Di dalam sana aku melihat kepedihan, kekecewaan yang rapat dia tutupi dariku. Dia yang mengerti penderitaanku adalah seorang yang lebih menderita dariku. Bagaimana dia bisa bertahan selama ini dengan kekuranganku ?bagaimana dia bisa bertahan selama ini dengan aku yang melupakannya ?
Aku ingin mengulangnya, waktu yang telah kami lalui dengan penderitaan, waktu yang ku lalui bersamnya dengan tetap mengingatnya sebagai suami dan kekasihku
Aku ingin melupakanmu dan merelakanmu dialam sana

Caffe  yokhisiru 2005
Aku berlari dengan sekuat yang aku bisa, tidak peduli dengan orang –orang yang marah karena tertabrak olehku. Aku tidak peduli dengan semua yang ada di sekitarku yang ku inginkan hanya secepat mungkin sampai ke tempatmu. Aku masih terus berlari saat ambulans dan orang- orang yang berada di sekitarmu mulai pergi. Nafasku terasa tercekat saat aku melihat ada begitu banyak darah, tubuhku tak bisa bergerak dan rasanya aku tak bisa bernafas dengan bebas. Sesak dalam dadaku dan aku tidak bisa mengingat apa- apa saat ada suara sirine kendaraan yang melintasiku.

*end of story*
catatan penulis :

Nina Sakurai sebagai tokoh aku dalam cerita ini adalah seorang gadis yang telah memiliki hubungan dengan seorang pria bernama Tetsuhi  Kaji “kamu”. Mereka telah berhungan selama 4 tahun.  Mereka berjanji bertemu di sebuah cafe favorit mereka namun sebuah kecelakaan terjadi  yang merrengut nyawa Kaji. Selang beberapa saat, ketika Nina dating ke tempat di mana Kaji kecelakaan hal yang sama pula terjadi pada Nina. Namun Nina masih beruntung karena kecelakaan tersebut tidak sampai merenggut nyawanya . Dia mengalami lumpuh pada seluruh badannya dan mengalami amnesia. Hal yang dia ingat hanyalah ketika dia melihat kecelakaan yang terjadi Kaji. Di saat keterpurukannya dan keterbatasannya, teman masa kecil Nina “dia” yang sangat mencintainya dan mau mengobati luka Nina. “dia” akhirnya menikahi Nina untuk melindunginya. Tokoh “dia” di sini bernama Stujiai Riko.

Senin, 27 Juli 2015

PUISI GUNDAHKU_Februari


Ku hitung bintang di langit hitam di atas sana
Namun jemariku tak cukup untuk gambarkan angkanya
Begitu banyak , begitu indah dengan rupa yang mempesona
Ia percikkan bahagia dengan terangnya
Hadirkan mimpi indah di setiap kilau sinarnya

Tak seperti diriku yang nampak lesu dan redup
Layaknya bintang yang cacat
Layu , tak bersinar , tak seperti dulu

Ku pijak bumi dengan kaki telanjang
Rasakan dinginnya rerumputan yang tumbuh
Menggigil , di terpa sang bayu malam yang menusuk
Namun tiada sakit menusuk tulang kuyuku

Tiada senyum yang dapat ku lengkungkan di sudut bibir
Terasa kaku untuk sekedar bersenggama dengan langit malam
Sedikit sulit , namun juga tak mudah
Perlahan – lahan tersungkur dalam kehampaan ini

Bulan nampak tersenyum palsu
Tersirat keberatan menatap sesosok manusia di bawahnya yang tlah putus asa
Bahkan bintangpun seperti tak sudi menatap  jiwa yang merana

Bulan februari tahun lalu
Cerita indah yang terlewati
14 februari setahun yang lalu
Keceriaan yang  lama terbuang

Ku baca diary kecil setahun lalu
Tulisan tangan yang sedikit berantakan namun masih nampak berseni
Ku putar memory setahun lau
Meski pudar namun masih tampak jelas
Saat jemarinya yang kuat menggenggamku mulai melemas
Bola mata yang ingin slalu ku lihat mulai menutup
Senyum manis yang sangat ku rindukan mulai terkatup

Airmata yang ku sembunyikan waktu itu mulai mengalir
Dan tiada berhenti sampai kini
Seperti kapal yang telah kehilangan nahkoda
Tak terarah yang kadang menabrak karang
Sampai tak pernah bisa berlayar lagi

Layaknya seperti layang-layang yang terputus dari benangnya
Terbang tak terkendali terbwa arus angin
Tak ada seorangpun yang bisa menggapainya
Terlalu jauh dan tinggi namun akan tercabik angin kesengsaraan
Dan akan terjatuh tak berguna yang tak kan pernah di peulikan lagi

Aku tersesat tanpamu mataku
Dunia terasa smakin meremang dengan cahaya pudarnya
Saat lentera kecil kehidupanku tak lagi bersinar
Semakin kehilangan kenangan yang telah ku genggam sejak lama
Izinkan aku menemanimu lagi
Izinkan aku kembali di sampingmu
Dunia telah mengusirku ,
hanya dirimu , hanya dirimu sandaranku