Rabu, 18 Maret 2015

judging sapi perah

A.    Judging SapiPerah
Judging adalah penilaian maupun seleksi sapi perah menyangkut pengamatan guna menghubungkan antara tipe sebagai sapi perah yang baik dengan fungsi produksi susunya (Blakely dan Bade, 1998). Penilaian judging menggunakan kartu skor yang disebut The Dairy Cow Unified Score Card, dimana kartu ini dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu penampilan umum, sifat perah, kapasitas badan, dan sistem mamae (Williamson dan Payne,
 1993).                                                                                                                                                 Sapi perah yang bentuk luarnya bagus adalah pada bagian tubuh berbentuk segitiga yang menunjukan memproduksi susu yang tinggi, kepala yang panjang, sempit dan tak banyak daging, mata yang besar dan bersinar, sedangkan pada leher panjang, tipis dengan lipatan kulit yang halus dan gelambir kecil (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Penampilan umum memberikan gambaran tentang karakteristik bangsa serta sifat kebetinaan yang dimiliki oleh sapi perah (Williamson dan Payne, 1993).
Sapi perah yang baik perlu memiliki alat-alat tubuh yang besar termasuk perut guna mencernakan makanan yang banyak yang diperlukan untuk menghasilkan susu yang banyak (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Penilaian judjing sapi perah ada empat, antara lain General Appearance, Dairy Character, Body Cappacity, dan Mammary System (Blakely dan Bade, 1998).
Berdasarkan hasil pengamatan judging atau penilaian sapi perah, didapatkan hasil judging pada sapi 3 sebesar 72, sapi 7 sebesar 54, sapi 8 sebesar 68, sapi 9 sebesar 67 dan sapi 10 sebesar 71. Sapi tersebut termasuk sapi yang memiliki skor judging dibawah standar. Rata-rata kondisi permukaan kulit kasar, bahu punggung dan pangkal ekor nampak jelas terlihat karena tidak terdapat daging yang tumbuh di sekelilingnya. Ukuran perut nampak besar yang kemungkinan cacingan dan ambing berukuran kecil karena sudah tidak memproduksi susu lagi. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1996) bahwa penilaian sapi perah dilakukan dengan menggunakan kartu penilaian universal yang berisi general appeareance, dairy character, body capacity dan mammary system dengan total nilai sebesar 100. Ditambahkan oleh Blakely dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa sapi perah yang baik adalah yang memiliki ukuran perut yang dalam, lebar dan panjang yang ditopang dengan kuat oleh tulang rusuk yang tangguh dengan lingkar dada yang besar, ambing besar, lunak dan lentur yang menunjukkan kelenjar susu yang aktif dan jumlahnya banyak di samping besarnya penampungan susu, pembuluh vena darah harus menonjol karena jumlah darah yang dibutuhkan untuk produksi susu sangat besar.
B.     Body Condition Score
Sapi perah yang berkualitas merupakan salah satu aspek utama penentu keberhasilan usaha peternakan sapi perah. Untuk membeli sapi perah yang berkualitas, sebaiknyapilih sapi perah yang memiliki keturunan sapi perah jenis sapi dengan produktifitas susu tinggi 9 minsalnya, keturunan asli sapi FH). Sapi berkualitas juga harus memiliki tampilan cirri fisik khas sapi perah yang baik, sehat (terutama sisitem reproduksinya), dan bebas penyakit yang menular. Berikut ini cirri fisik sapi perah yang  sehat :
a)      Tubuhsehatdanbukansebagaipembawapenyakitmenular
b)      Dada lebarsertatulangrusukpanjangdanluas
c)      Ambingbesar, memanjang kea rah perut, danmelebarsampai di antarapaha
d)     Kondisiambinglunak, elastic, dandiantarakeempatkuartirterdapatjeda yang cukupbesar. Sehabisdiperah, ambingakanelipatdankempis, sedangkansebelumdiperahmengembungdanbesar
e)      Kaki kuat, tidakpincangdanjarakantarapahalebar
f)       Produksisusu. Laktasipertamaproduksisusu minimum 20 liter
g)      Sapiperah yang berkualitasjugadapatmelahirkansetiaptahunsehinggadapatmenghasilkansususecararutinsetiaptahun (Bagus, 2011).
Sistem penilaian ini menyediakan skor relatif berdasarkan evaluasi timbunan lemak dalam hubungannya dengan fitur kerangka (anonim, 2012). Penilaian kondisi tubuh dilakukan dengan
cara pengamatan dan perabaan terhadap deposit lemak pada bagian tubuh ternak, yaitu pada bagian punggung dan seperempat bagian belakang, seperti pada bagian processusspinosus, processus spinosus ke processustransversus, processus transversus, legok lapar, tuber coxae (hooks), antara tuber coxae dan tuber ischiadicus (pins), antara tuber coxae kanan dan kiri, dan pangkal ekor ke tuberischiadicus dengan skor 1-5 (skor 1=sangat kurus, skor 3= sedang, dan skor 5= sangat gemuk) skala 0,25 (EDMONSON et al., 1989).


Cara Mengevaluasi Induk Sapi Menggunakan BCS
BCS harus digunakan untuk mencapai kondisi tubuh yang optimal pada saat melahirkan. Hal ini akan memaksimalkan efisiensi reproduksi dan ekonomi secara keseluruhan pada populasi. Banyak faktor yang berhubungan dengan kondisi tubuh yang berubah sepanjang tahun. Setelah kelahiran, persyaratan nutrisi yang tinggi untuk laktasi untuk memelihara atau meningkatkan kondisi tubuh selama 60 hari pertama periode menyusui hampir mustahil. Umumnya sapi akan kehilangan satu level selama periode ini. Selain pemeliharaan dan tuntutan laktasi, sapi harus mempersiapkan diri untuk perkawinan selanjutnya. Sapi dewasa berbagai macam breed harus di BCS 5 atau lebih besar pada kelahiran untuk mencapai fungsi reproduksi yang memadai dengan musim kawin berikutnya. BCS di bawah 5 pada sapi dewasa mempengaruhi fungsional reproduksi dan massa estrus pertama
Cara mengukur dan menilai BCS pada ternak sapi.
            Sistem penilaian yang umum telah dikembangkan untuk memperkirakan rata-rata kondisi tubuh sapi dalam populasi. Sistem penilaian ini menyediakan skor relatif berdasarkan evaluasi timbunan lemak dalam hubungannya dengan fitur kerangka. Kondisi tubuh untuk sistem penilaian yang paling banyak digunakan untuk sapi memberikan skor dari 1 (kurus dan hampir tidak ada lemak) sampai 9 (berlebihan lemak). Penilaian 1-3 adalah kurus, nomor 4 tergolong  perbatasan, 5-6 yaitu optimal, sedangkan 7-9 adalah gemuk.
1.      Kurus parah; kelaparan dan lemah, tidak ada lemak terdeteksi di punggung, pinggul atau tulang rusuk; tailhead dan individual tulang rusuk terlihat mencolok; semua struktur rangka terlihat tajam dan biasanya ternak terserang penyakit. Dalam sistem produksi normal ternak di BCS ini jarang terjadi.
2.      Kurus; mirip dengan BCS 1, tapi tidak lemah; jaringan otot sedikit terlihat; tailhead dan iga kurang menonjol.
3.      Sangat kurus; tidak ada lemak diatas tulang rusuk atau di punggung; tulang punggung mudah terlihat, sedikit peningkatan dalam otot lebih dari BCS.
4.      Perbatasan; rusuk individu terlihat kurang tertutup lemak secara keseluruhan; otot meningkat melalui bahu dan kaki belakangnya, pinggul dan tulang punggung terlihat sedikit membulat dibandingkan penampilan tajam BCS 3.
5.      Sedang; lemak yang menutupi tulang rusuk meningkat, tulang rusuk umumnya hanya dibedakan 12 dan 13 secara individual, tailhead penuh tapi tidak bulat.
6.      Baik; tulang rusuk belakang dan tailhead terlihat agak bulat dan ketika diraba sedikit penumpukan lemak pada punggung.
7.      Gemuk; munculnya daging dan lemak dan ke belakang tailhead, dan punggung; tulang rusuk tidak terlihat; daerah vulva dan rektum eksternal mengandung timbunan lemak sedang; pada ambing sedikit berlemak.
8.      Sangat gemuk; kuadrat penampilan karena kelebihan lemak di punggung, tailhead, dan bagian belakangnya; penumpukan lemak ekstrim di punggung dan seluruh tulang rusuk; lemak yang berlebihan di sekitar vulva dan rektum; mobilitas dalam ambing mungkin mulai dibatasi.
9.      Obesitas; mirip dengan BCS 8, tetapi untuk tingkat yang lebih besar mayoritas  lemak  disimpan  pada  ambing  yang terbatas efektifitas laktasi.
Dalam sistem produksi normal ternak di BCS ini jarang terjadi.

      I.         
KEADAAN UMUM
Ciri-ciri Umum
:
  Sifat Kebetinaan
: Feminim dan Jinak
  Keharmonisan
: Kombinasi dari seluruh bagian tubuh serasi
  Sifat Karakteristik BS
:
Warna putih belang hitam/hitam belang putih
Ekor harus putih (tidak boleh hitam)
Di bawah lutut dan siku tidak boleh hitam
Badan besar dan kemampuan makan banyak
Kepala
:
-   Panjang-sempit-lurus
-   Tanduk mengarah ke depan & belok ke dalam
-   Moncong lebar & luas
-   Mata lebar & cerah-menonjol; jarak keduanya lebar
-   Dahi agak lebar
-   Batang hidung lurus
-   Ukuran telinga sedang & terangkat tajam
-   Rambut panjang pada puncak kepala tidak baik
Bahu
: Rata dan merapat dengan tubuh
Punggung
:
-   Lurus (dari gumba à pangkal ekor)
-   Tulang punggung nampak jelas, lurus & kuat
-   Pinggang luas dan lebar
Kemudi (Pinggul)
: Panjang, lebar & luas/rata & tinggi
Pangkal ekor
: Membentuk garis lurus dengan garis punggung &
  tidak keras
Ekor
: Ramping dan Langsing
Kaki depan
: Ukurannya sedang, lurus/tegak; jarak keduanya
  lebar
Kaki belakang
: Hampir tegak lurus dengan siku ke bawah berupa
  garis lurus jika dilihat dari belakang
Tracak
: Rata, halus & rapi

  II.         
SIFAT PERAHAN
: Agak kurus, cerah & langsing
  Bentuk          
: Segi tiga baji/sperti gergaji
  Kehalusan badan
: Halus
  Leher
: Panjang, licin, terpaut halus dengan bahu & dada 
  bagian depan (Brisket); Terdapat lipatan kulit
  pada pankal leher & dada bagian depan
  Gumba / Pundak
: Agak tajam & tipis/menonjol
  Tulang Rusuk
: Lebar, pipih & panjang; jarak agak lebar ± 3 jari
  Flank
: Dalam & halus
  Paha
: Rata sampai berliku/rata dilihat dari belakang;
  Dari belakang tampak melebar (Untuk ruang
  ambing)
  Lipat paha
: Nampak jelas
  Kulit & Rambut
:
-   Kulit : Lentur, longgar dengan bagian dalamnya & mudah dilipat
-   Rambut : Halus & mengkilap
    III.    
KAPASITAS TUBUH
  Lingkar perut
: Dalam dan besar kearah belakang
  Lingkar dada
: Luas dan dalam; Jarak kedua pangkal kaki depan
  (dasar dada) cukup lebar
  Lingkar dada menunjukkan Konstitusi & Vigor
  Size (besar)
: PENTING!! Bila karakteristik sama
Sapi yang besar à Lebih baik

    IV.    
SISTIM AMBING
a)     Ambing Keseluruhan :
    Pertautan
: Baik dan kuat di bawah perut, -diantaranya ke2
  kaki belakang, -mulai sedikit dibawah vulva (alat
  kelamin dibagian belakang & kedepan menjulur
  samapi kebawah perut)
    Ukuran
: Bagian depan & belakang ambing hampir sama
  besarnya dengan batas-batas yang hamper tidak
  kentara diantara ke4 kwartir
à jika dilihat dari
  samping; simetris, panjangnya sedang, lebar &
  dalam
b)    Ambing Depan
: Panjangnya sedang; pertautannya baik; lebarnya
  kompak dari depan ke belakang
c)     Ambing belakang
: Tinggi, Lebar, Ramping, agak bulat; Lebarnya
  kompak dari atas ke bawah; pertautannya kuat
d)    Putting
:
-   Terdapat 4 buah (4 bagian kwartir)
-   ke 4 putting ukurannya sama (simetris) & cukup besarnya
-   Panjang & diameternya sedang
-   Bentuk silindris
-   Posisinya tegak lurus vertical) & tampak baik (simetris) dari depan hingga belakang
e)     Vena Susu
: Jelas, basar, panjang, bekelok-kelok (berliku-liku)
& bercabang

DALAM SELEKSI (JUDGING) HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
A.    SELEKSI BERDASARKAN SILSILAH
Silsilah adalah garis keturunan dari suatu hubungan keluarga antara satu individu dengan individu lainnya yang menjadi tetua atau yang menurunkannya.  Silsilah ini dapat digunakan untuk mengadakan seleksi sapi perah apabila seleksi individu berdasarkan informasi performansnya sulit didapatkan atau tidak ada data-nya, atau untuk ternak-ternak sapi perah muda yang belum berproduksi, atau apabila berhadapan dengan individu-individu yang mempunyai tingkat produksi yang relatif sama. Seleksi berdasarkan silsilah dilakukan dengan jalan melihat produktivitas dari keluarganya, seperti informasi induk-bapak-nya, nenek-kakek-nya, saudara kandung-nya, dan atau saudara tirinya.
B.     SELEKSI BERDASARKAN CATATAN PRODUKSI
Bagi sapi-sapi yang mempunyai catatan produksi, untuk seleksi betina dinilai dengan metode individual merit testing, sedangkan untuk seleksi pejantan dinilai dengan metode progeny testing (uji Zuriat).
C.     SELEKSI BERDASARKAN HASIL KONTES (Judging Dairy Cattle)
Kriteria penilaian dalam kontes sapi perah didasarkan atas penilaian bentuk luar sapi perah. Dua metode penilaian bentuk luar sapi perah, yaitu:
1.    Penilaian berdasarkan empat sifat utama, meliputi:
  • Penampilan umum         general appearance              30%
  • Karakter sapi perah         dairy character                    20%
  • Kapasitas tubuh               body capasity                     20%
  • Sistem perambingan      mammary system                  30%
Metode ini lebih bersifat kualitatif dengan penilaian (score) untuk masing-masing bagian dari sifat utama, selanjutnya nilai tersebut dijumlahkan dan dikalikan nilai pembobotannya.  Jumlah nilai dari ke empat sifat utama menentukan klasifikasi dari sapi perah yang dinilai, penilaian akhir dicerminkan dalam bentuk angka dan dimasukkan ke dalam klasifikasi sebagai berikut:
  • Excellent              nilai              > 90
  • Very good            nilai             85 – 89
  • Good plus            nilai             80 – 84
  • Good                    nilai             75 – 79
  • Fair                       nilai             70 - 74
  • Poor                      nilai             < 70
Dalam pelaksanaannya, penilai akan mempertimbangkan juga faktor-faktor se-perti: umur, masa laktasi, masa kering, tingkat produksi, dan kebuntingan.
2.    Metode klasifikasi linier (linear classification)
Disebut metode klasifikasi linier karena setiap sifat dinilai dalam score secara linier, mulai dari angka 1 (satu) sampai dengan 50 (lima puluh) terhadap 15 sifat luar yang telah terbukti mempunyai hubungan sangat erat dengan produksi susu.
Dalam melakukan penilaian secara linear classification, untuk bentuk luar yang normal diberi nilai 25, sedangkan yang kurang baik diberi nilai di bawah 25, dan terhadap sifat yang sempurna diberi nilai50.
Metode ini diharapkan dapat memberi kemajuan, karena didasarkan atas kisaran penilaian yang lebar, yaitu 50 angka, sehingga memungkinkan gambaran per-bedaan-perbedaan antar individu lebih kelihatan, serta semua sifat yang dinilai mempunyai nilai ekonomis.
Bentuk luar yang dievaluasi adalah sebagai berikut:
  • Tinggi badan (stature)
Pengukuran tinggi badan sapi perah dilakukan di daerah titik persilangan antara garis tulang panggul dan pinggang.
  • Kekuatan sapi (strength)
Evaluasi ditujukan terhadap kekuatan otot dan tulang di sekitar dadanya.  Pe-nilaian dilakukan dari samping dan depan sapi untuk menilai dalam dan lebar dadanya.
  • Kedalaman tubuh (body depth)
Penilaian terhadap sifat ini adalah melihat daerah lengkungan rusuk terakhir.  Sifat ini sering disebut dengan istilah lengkung perut.  Kedalaman dada penting diketahui, karena menggambarkan kemampuan sapi mengkonsumsi hijauan.
  • Ciri khas sapi perah (dairy form)
Pengamatan terutama ditujukan terhadap keharmonisan bentuk, mulai dari leher, gumba, punggung, dan pinggang.
  • Sudut pantat (rump angel)
Penilaian dilakukan dari samping, untuk melihat sudut yang dibuat oleh garis pinggang dan tulang ekor.  Bila bagian ekor lebih tinggi dan membentuk sudut yang tajam dan patah diberi nilai 5, yang normal adalah bila garis punggung dan pangkal ekor menunjukkan garis lurus.
  • Lebar pinggul (thurl width)
Menilai daerah pelvis, yaitu sekitar tuber coxae dan tuber sacrale dengan tuber ischii.  Sifat ini mempunyai hubungan langsung terhadap kemudahan beranak.
  • Kedudukkan kaki belakang (rear legs side view)
Kedudukkan kaki belakang dievaluasi dari samping, perhatian ditujukan pada posisi persendian tumit (hock joint).
  •  Sudut teracak (foot angel)
Perhatian ditujukan kepada posisi sudut kaki belakang terhadap lantai, poda posisi ternak berdiri tegak lurus.
  • Pertautan ambing depan (fore uddder attachment)
Sifat ini ditentukan berdasarkan pengamatan ambing dari samping, dan menilai kekuatan ligament bagian luar.  Evaluasi ini sangagt penting, karena akan menilai kekuatan perlekatan ambing dan kemudahan diperah.
  • Tinggi ambing belakang (rear udder height)
Evaluasi dilakukan dari belakang.  Perlekatan ambing menentukan tinggi ren-dahnya ambing.  Sifat ini menunjukkan kapasitas ambing.
  • Lebar ambing bagian belakang (rear udder width)
Sifat ini menunjukkan kapasitas ambing dan kemampuan ambing dalam mem-produksi susu.
  • Celah ambing (udder cleft)
Penilaian dilakukan terhadap ambing bagian bawah, dilakukan dari belakang sapi.  Yang dinilai adalah kedalaman dari ligament yang menyangga ambing yang memanjang dari depan ke belakang di tengah-tengah ambing.
Sifat ini menggambarkan kekuatan penyangga yang juga menentukan letak/ arah dari puting susunya.
  • Dalam ambing (udder depth)
Dalam ambing digambarkan sebagai posisi relatif dari dasar ambing terhadap sendi tumit dan terhadap garis horizontal.
  • Posisi puting depan (front teat placement)
Kedudukkan puting susu dinilai dari belakang sapi.  Puting susu yang baik memudahkan proses pemerahan
  • Panjang puting (teat length)
Sifat ini ditujukan untuk mengevaluasi panjang puting.  Ukur puting terpanjang apabila panjangnya tidak sama.
Metode klasifikasi linier dapat membantu para peternak untuk memperbaiki ternaknya ke arah produksi yang lebih baik, dengan jalan memperbaiki bentuk luar dari keturunannya. Misalnya, seekor induk dengan punggung yang jelek (nilai kurang dari 25) harus dicari pejantan unggul yang mempunyai kelebihan dalam hal punggungnya.  Dengan demikian, diharapkan perbaikan atau koreksi terhadap bentuk punggung dari keturunannya.  Perkawinan ini sering disebut sebagai perkawinan koreksi (corrective mating).  Dengan jalan ini peternak dapat mengevaluasi kemajuan ternaknya, paling tidak biasanya dilakukan setiap lima tahun sekali.
Untuk pejantan di luar negeri, sifat-sifat yang telah dinilai melalui anaknya, kemu-dian digunakan untuk mencari nilai pemuliaan (breeding value) untuk setiap sifat.  Di dalam buku katalog pejantan (sire summary), nilai pemuliaan dari sifat-sifat tersebut kemudian digambarkan dalam grafik, sehingga akan memudahkan pencarian pejantan mana yang dikehendaki untuk memperbaiki bentuk luar sapi induk yang dimiliki peternak.



1 komentar: