A.
Judging SapiPerah
Judging adalah penilaian maupun seleksi
sapi perah menyangkut pengamatan guna menghubungkan antara tipe sebagai sapi
perah yang baik dengan fungsi produksi susunya (Blakely dan Bade, 1998).
Penilaian judging menggunakan kartu skor yang disebut The Dairy Cow Unified
Score Card, dimana kartu ini dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu penampilan umum, sifat perah, kapasitas badan, dan sistem
mamae (Williamson dan Payne,
1993). Sapi
perah yang bentuk luarnya bagus adalah pada bagian tubuh
berbentuk segitiga yang menunjukan memproduksi susu yang tinggi, kepala yang panjang, sempit dan tak banyak daging, mata
yang besar dan bersinar, sedangkan pada leher
panjang, tipis dengan lipatan kulit yang halus dan gelambir kecil
(Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Penampilan umum memberikan gambaran tentang
karakteristik bangsa serta sifat kebetinaan yang dimiliki oleh sapi perah
(Williamson dan Payne, 1993).
Sapi perah yang baik perlu memiliki
alat-alat tubuh yang besar termasuk perut guna mencernakan makanan yang banyak
yang diperlukan untuk menghasilkan susu yang banyak (Syarief dan Sumoprastowo,
1990). Penilaian judjing sapi perah ada empat, antara lain General Appearance,
Dairy Character, Body Cappacity, dan Mammary System (Blakely dan Bade, 1998).
Berdasarkan hasil pengamatan judging
atau penilaian sapi perah, didapatkan hasil judging pada sapi 3 sebesar 72,
sapi 7 sebesar 54, sapi 8 sebesar 68, sapi 9 sebesar 67 dan sapi 10 sebesar 71.
Sapi tersebut termasuk sapi yang memiliki skor judging dibawah standar.
Rata-rata kondisi permukaan kulit kasar, bahu punggung dan pangkal ekor nampak
jelas terlihat karena tidak terdapat daging yang tumbuh di sekelilingnya.
Ukuran perut nampak besar yang kemungkinan cacingan dan ambing berukuran kecil
karena sudah tidak memproduksi susu lagi. Hal ini sesuai dengan pendapat
Frandson (1996) bahwa penilaian sapi perah dilakukan dengan menggunakan kartu
penilaian universal yang berisi general appeareance, dairy character, body
capacity dan mammary system dengan total nilai sebesar 100. Ditambahkan oleh
Blakely dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa sapi perah yang baik adalah yang
memiliki ukuran perut yang dalam, lebar dan panjang yang ditopang dengan kuat
oleh tulang rusuk yang tangguh dengan lingkar dada yang besar, ambing besar,
lunak dan lentur yang menunjukkan kelenjar susu yang aktif dan jumlahnya banyak
di samping besarnya penampungan susu, pembuluh vena darah harus menonjol karena
jumlah darah yang dibutuhkan untuk produksi susu sangat besar.
B.
Body Condition Score
Sapi perah yang berkualitas merupakan salah satu aspek
utama penentu keberhasilan usaha peternakan sapi perah. Untuk membeli sapi
perah yang berkualitas, sebaiknyapilih sapi perah yang memiliki keturunan sapi
perah jenis sapi dengan produktifitas susu tinggi 9 minsalnya, keturunan asli
sapi FH). Sapi berkualitas juga harus memiliki tampilan cirri fisik khas sapi
perah yang baik, sehat (terutama sisitem reproduksinya), dan bebas penyakit yang
menular. Berikut ini cirri fisik sapi perah
yang sehat :
a)
Tubuhsehatdanbukansebagaipembawapenyakitmenular
b)
Dada lebarsertatulangrusukpanjangdanluas
c)
Ambingbesar, memanjang kea rah perut, danmelebarsampai di antarapaha
d)
Kondisiambinglunak, elastic, dandiantarakeempatkuartirterdapatjeda yang
cukupbesar. Sehabisdiperah, ambingakanelipatdankempis,
sedangkansebelumdiperahmengembungdanbesar
e)
Kaki kuat, tidakpincangdanjarakantarapahalebar
f)
Produksisusu. Laktasipertamaproduksisusu minimum 20 liter
g)
Sapiperah yang
berkualitasjugadapatmelahirkansetiaptahunsehinggadapatmenghasilkansususecararutinsetiaptahun
(Bagus, 2011).
Sistem penilaian ini menyediakan skor relatif berdasarkan evaluasi timbunan
lemak dalam hubungannya dengan fitur kerangka (anonim, 2012). Penilaian kondisi
tubuh dilakukan dengan
cara pengamatan
dan perabaan terhadap deposit lemak pada bagian tubuh ternak, yaitu pada bagian
punggung dan seperempat bagian belakang, seperti pada bagian processusspinosus,
processus spinosus ke processustransversus, processus
transversus, legok lapar, tuber coxae (hooks), antara tuber
coxae dan tuber ischiadicus (pins), antara tuber coxae
kanan dan kiri, dan pangkal ekor ke tuberischiadicus dengan skor 1-5
(skor 1=sangat kurus, skor 3= sedang, dan skor 5= sangat gemuk) skala 0,25
(EDMONSON et al., 1989).
Cara Mengevaluasi
Induk Sapi Menggunakan BCS
BCS harus
digunakan untuk mencapai kondisi tubuh yang optimal pada saat melahirkan. Hal
ini akan memaksimalkan efisiensi reproduksi dan ekonomi secara keseluruhan pada
populasi. Banyak faktor yang berhubungan dengan kondisi tubuh yang berubah
sepanjang tahun. Setelah kelahiran, persyaratan nutrisi yang tinggi untuk
laktasi untuk memelihara atau meningkatkan kondisi tubuh selama 60 hari pertama
periode menyusui hampir mustahil. Umumnya sapi akan kehilangan satu level
selama periode ini. Selain pemeliharaan dan tuntutan laktasi, sapi harus
mempersiapkan diri untuk perkawinan selanjutnya. Sapi dewasa berbagai macam
breed harus di BCS 5 atau lebih besar pada kelahiran untuk mencapai fungsi
reproduksi yang memadai dengan musim kawin berikutnya. BCS di bawah 5 pada sapi
dewasa mempengaruhi fungsional reproduksi dan massa estrus pertama
Cara mengukur
dan menilai BCS pada ternak sapi.
Sistem
penilaian yang umum telah dikembangkan untuk memperkirakan rata-rata kondisi
tubuh sapi dalam populasi. Sistem penilaian ini menyediakan skor relatif
berdasarkan evaluasi timbunan lemak dalam hubungannya dengan fitur kerangka.
Kondisi tubuh untuk sistem penilaian yang paling banyak digunakan untuk sapi
memberikan skor dari 1 (kurus dan hampir tidak ada lemak) sampai 9 (berlebihan
lemak). Penilaian 1-3 adalah kurus, nomor 4 tergolong perbatasan, 5-6 yaitu optimal, sedangkan 7-9
adalah gemuk.
1. Kurus parah; kelaparan dan lemah, tidak
ada lemak terdeteksi di punggung, pinggul atau tulang rusuk; tailhead dan
individual tulang rusuk terlihat mencolok; semua struktur rangka terlihat tajam
dan biasanya ternak terserang penyakit. Dalam sistem produksi normal ternak di
BCS ini jarang terjadi.
2. Kurus; mirip dengan BCS 1, tapi tidak
lemah; jaringan otot sedikit terlihat; tailhead dan iga kurang menonjol.
3. Sangat kurus; tidak ada lemak diatas
tulang rusuk atau di punggung; tulang punggung mudah terlihat, sedikit
peningkatan dalam otot lebih dari BCS.
4. Perbatasan; rusuk individu terlihat
kurang tertutup lemak secara keseluruhan; otot meningkat melalui bahu dan kaki
belakangnya, pinggul dan tulang punggung terlihat sedikit membulat dibandingkan
penampilan tajam BCS 3.
5. Sedang; lemak yang menutupi tulang
rusuk meningkat, tulang rusuk umumnya hanya dibedakan 12 dan 13 secara
individual, tailhead penuh tapi tidak bulat.
6. Baik; tulang rusuk belakang dan
tailhead terlihat agak bulat dan ketika diraba sedikit penumpukan lemak pada
punggung.
7. Gemuk; munculnya daging dan lemak dan
ke belakang tailhead, dan punggung; tulang rusuk tidak terlihat; daerah vulva
dan rektum eksternal mengandung timbunan lemak sedang; pada ambing sedikit
berlemak.
8. Sangat gemuk; kuadrat penampilan karena
kelebihan lemak di punggung, tailhead, dan bagian belakangnya; penumpukan lemak
ekstrim di punggung dan seluruh tulang rusuk; lemak yang berlebihan di sekitar
vulva dan rektum; mobilitas dalam ambing mungkin mulai dibatasi.
9. Obesitas; mirip dengan BCS 8, tetapi
untuk tingkat yang lebih besar mayoritas
lemak disimpan pada
ambing yang terbatas efektifitas
laktasi.
Dalam sistem produksi normal ternak di
BCS ini jarang terjadi.
|
I.
|
KEADAAN UMUM
|
||
|
Ciri-ciri
Umum
|
:
|
||
|
Sifat Kebetinaan
|
: Feminim dan
Jinak
|
||
|
Keharmonisan
|
: Kombinasi dari seluruh bagian tubuh serasi
|
||
|
Sifat
Karakteristik BS
|
:
|
||
|
Warna putih belang hitam/hitam belang putih
|
|||
|
Ekor harus putih (tidak boleh hitam)
|
|||
|
Di bawah lutut dan siku tidak boleh
hitam
|
|||
|
Badan besar dan kemampuan makan
banyak
|
|||
|
Kepala
|
:
|
||
|
- Panjang-sempit-lurus
|
|||
|
- Tanduk mengarah ke depan & belok ke
dalam
|
|||
|
- Moncong lebar & luas
|
|||
|
- Mata lebar & cerah-menonjol;
jarak keduanya lebar
|
|||
|
- Dahi agak lebar
|
|||
|
- Batang hidung lurus
|
|||
|
- Ukuran telinga sedang & terangkat
tajam
|
|||
|
- Rambut panjang pada puncak kepala
tidak baik
|
|||
|
Bahu
|
: Rata dan merapat dengan tubuh
|
||
|
Punggung
|
:
|
||
|
- Lurus (dari gumba à pangkal
ekor)
|
|||
|
- Tulang punggung nampak jelas, lurus
& kuat
|
|||
|
- Pinggang luas dan lebar
|
|||
|
Kemudi (Pinggul)
|
: Panjang, lebar & luas/rata & tinggi
|
||
|
Pangkal ekor
|
: Membentuk garis lurus dengan garis punggung &
tidak keras |
||
|
Ekor
|
: Ramping dan
Langsing
|
||
|
Kaki depan
|
: Ukurannya sedang, lurus/tegak; jarak keduanya
lebar |
||
|
Kaki belakang
|
: Hampir tegak lurus dengan siku ke bawah berupa
garis lurus jika dilihat dari belakang |
||
|
Tracak
|
: Rata, halus
& rapi
|
||
|
II.
|
SIFAT PERAHAN
|
: Agak kurus,
cerah & langsing
|
|
Bentuk
|
: Segi tiga
baji/sperti gergaji
|
|
|
Kehalusan badan
|
: Halus
|
|
|
Leher
|
: Panjang,
licin, terpaut halus dengan bahu & dada
bagian depan (Brisket); Terdapat lipatan kulit pada pankal leher & dada bagian depan |
|
|
Gumba / Pundak
|
: Agak tajam
& tipis/menonjol
|
|
|
Tulang Rusuk
|
: Lebar,
pipih & panjang; jarak agak lebar ± 3 jari
|
|
|
Flank
|
: Dalam &
halus
|
|
|
Paha
|
: Rata sampai
berliku/rata dilihat dari belakang;
Dari belakang tampak melebar (Untuk ruang ambing) |
|
|
Lipat paha
|
: Nampak
jelas
|
|
|
Kulit & Rambut
|
:
|
|
|
- Kulit : Lentur, longgar dengan bagian
dalamnya & mudah dilipat
|
||
|
- Rambut : Halus & mengkilap
|
||
|
III.
|
KAPASITAS TUBUH
|
|
|
Lingkar perut
|
: Dalam dan besar kearah belakang
|
|
|
Lingkar dada
|
: Luas dan
dalam; Jarak kedua pangkal kaki depan
(dasar dada) cukup lebar
Lingkar dada menunjukkan Konstitusi &
Vigor
|
|
|
Size (besar)
|
: PENTING!! Bila karakteristik sama
Sapi yang
besar à Lebih baik
|
|
|
IV.
|
SISTIM AMBING
|
|
|
a) Ambing Keseluruhan :
|
||
|
Pertautan
|
: Baik dan
kuat di bawah perut, -diantaranya ke2
kaki belakang, -mulai sedikit dibawah vulva (alat kelamin dibagian belakang & kedepan menjulur samapi kebawah perut) |
|
|
Ukuran
|
: Bagian
depan & belakang ambing hampir sama
besarnya dengan batas-batas yang hamper tidak kentara diantara ke4 kwartir à jika dilihat dari samping; simetris, panjangnya sedang, lebar & dalam |
|
|
b) Ambing Depan
|
: Panjangnya sedang; pertautannya baik; lebarnya
kompak dari depan ke belakang |
|
|
c) Ambing
belakang
|
: Tinggi, Lebar, Ramping, agak bulat; Lebarnya
kompak dari atas ke bawah; pertautannya kuat |
|
|
d) Putting
|
:
|
|
|
- Terdapat 4 buah (4 bagian kwartir)
|
||
|
- ke 4 putting ukurannya sama
(simetris) & cukup besarnya
|
||
|
- Panjang & diameternya sedang
|
||
|
- Bentuk silindris
|
||
|
- Posisinya tegak lurus vertical) &
tampak baik (simetris) dari depan hingga belakang
|
||
|
e) Vena Susu
|
: Jelas,
basar, panjang, bekelok-kelok (berliku-liku)
& bercabang |
|
DALAM SELEKSI (JUDGING) HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
A. SELEKSI
BERDASARKAN SILSILAH
Silsilah adalah garis keturunan dari suatu hubungan
keluarga antara satu individu dengan individu lainnya yang menjadi tetua atau
yang menurunkannya. Silsilah ini dapat digunakan untuk mengadakan seleksi
sapi perah apabila seleksi individu berdasarkan informasi performansnya sulit
didapatkan atau tidak ada data-nya, atau untuk ternak-ternak sapi perah muda
yang belum berproduksi, atau apabila berhadapan dengan individu-individu yang
mempunyai tingkat produksi yang relatif sama. Seleksi berdasarkan silsilah
dilakukan dengan jalan melihat produktivitas dari keluarganya, seperti
informasi induk-bapak-nya, nenek-kakek-nya, saudara kandung-nya, dan atau
saudara tirinya.
B. SELEKSI BERDASARKAN CATATAN PRODUKSI
Bagi sapi-sapi
yang mempunyai catatan produksi, untuk seleksi betina dinilai dengan
metode individual merit testing,
sedangkan untuk seleksi pejantan dinilai dengan metode progeny testing (uji Zuriat).
C. SELEKSI BERDASARKAN HASIL KONTES (Judging Dairy Cattle)
Kriteria penilaian
dalam kontes sapi perah didasarkan atas penilaian bentuk luar sapi perah. Dua
metode penilaian bentuk luar sapi perah, yaitu:
1. Penilaian berdasarkan empat sifat
utama, meliputi:
- Penampilan
umum general
appearance 30%
- Karakter sapi
perah dairy
character 20%
- Kapasitas
tubuh body
capasity
20%
- Sistem
perambingan mammary
system 30%
Metode ini
lebih bersifat kualitatif dengan penilaian (score) untuk masing-masing bagian dari sifat utama, selanjutnya
nilai tersebut dijumlahkan dan dikalikan nilai pembobotannya. Jumlah
nilai dari ke empat sifat utama menentukan klasifikasi dari sapi perah yang
dinilai, penilaian akhir dicerminkan dalam bentuk angka dan dimasukkan ke dalam
klasifikasi sebagai berikut:
- Excellent
nilai >
90
- Very good
nilai 85 – 89
- Good plus
nilai 80 – 84
- Good
nilai 75 – 79
- Fair
nilai 70 - 74
- Poor
nilai < 70
Dalam
pelaksanaannya, penilai akan mempertimbangkan juga faktor-faktor se-perti:
umur, masa laktasi, masa kering, tingkat produksi, dan kebuntingan.
2. Metode klasifikasi linier (linear
classification)
Disebut metode
klasifikasi linier karena setiap sifat dinilai dalam score secara linier, mulai
dari angka 1 (satu)
sampai dengan 50 (lima
puluh) terhadap 15 sifat
luar yang telah terbukti mempunyai hubungan sangat erat dengan produksi susu.
Dalam melakukan
penilaian secara linear
classification, untuk bentuk luar yang normal diberi nilai 25, sedangkan yang kurang baik diberi nilai di bawah 25, dan terhadap sifat
yang sempurna diberi
nilai50.
Metode ini
diharapkan dapat memberi kemajuan, karena didasarkan atas kisaran penilaian
yang lebar, yaitu 50 angka, sehingga memungkinkan gambaran per-bedaan-perbedaan
antar individu lebih kelihatan, serta semua sifat yang dinilai mempunyai nilai
ekonomis.
Bentuk luar
yang dievaluasi adalah sebagai berikut:
- Tinggi badan (stature)
Pengukuran
tinggi badan sapi perah dilakukan di daerah titik persilangan antara garis
tulang panggul dan pinggang.
- Kekuatan sapi (strength)
Evaluasi
ditujukan terhadap kekuatan otot dan tulang di sekitar dadanya.
Pe-nilaian dilakukan dari samping dan depan sapi untuk menilai dalam dan lebar dadanya.
- Kedalaman tubuh (body depth)
Penilaian
terhadap sifat ini adalah melihat daerah lengkungan rusuk terakhir. Sifat
ini sering disebut dengan istilah lengkung perut. Kedalaman dada penting
diketahui, karena menggambarkan kemampuan sapi mengkonsumsi hijauan.
- Ciri khas sapi perah (dairy form)
Pengamatan
terutama ditujukan terhadap keharmonisan bentuk, mulai dari leher, gumba,
punggung, dan pinggang.
- Sudut pantat (rump angel)
Penilaian
dilakukan dari samping, untuk melihat sudut yang dibuat oleh garis pinggang dan
tulang ekor. Bila bagian ekor lebih tinggi dan membentuk sudut yang tajam dan patah diberi
nilai 5, yang normal adalah bila garis punggung dan pangkal ekor
menunjukkan garis lurus.
- Lebar pinggul (thurl width)
Menilai
daerah pelvis, yaitu
sekitar tuber coxae dan tuber sacrale dengan tuber ischii. Sifat ini
mempunyai hubungan langsung terhadap kemudahan beranak.
- Kedudukkan kaki belakang (rear legs side view)
Kedudukkan kaki
belakang dievaluasi dari samping, perhatian ditujukan pada posisi persendian
tumit (hock joint).
- Sudut
teracak (foot angel)
Perhatian
ditujukan kepada posisi sudut kaki belakang terhadap lantai, poda posisi ternak
berdiri tegak lurus.
- Pertautan ambing depan (fore uddder attachment)
Sifat ini
ditentukan berdasarkan pengamatan ambing dari samping, dan menilai kekuatan
ligament bagian luar. Evaluasi ini sangagt penting, karena akan menilai
kekuatan perlekatan ambing dan kemudahan diperah.
- Tinggi ambing belakang (rear udder height)
Evaluasi
dilakukan dari belakang. Perlekatan ambing menentukan tinggi ren-dahnya
ambing. Sifat ini menunjukkan kapasitas ambing.
- Lebar ambing bagian
belakang (rear udder width)
Sifat ini
menunjukkan kapasitas ambing dan kemampuan ambing dalam mem-produksi susu.
- Celah ambing (udder cleft)
Penilaian
dilakukan terhadap ambing bagian bawah, dilakukan dari belakang sapi.
Yang dinilai adalah kedalaman dari ligament yang menyangga ambing yang
memanjang dari depan ke belakang di tengah-tengah ambing.
Sifat ini
menggambarkan kekuatan penyangga yang juga menentukan letak/ arah dari puting
susunya.
- Dalam ambing (udder depth)
Dalam ambing
digambarkan sebagai posisi relatif dari dasar ambing terhadap sendi tumit dan terhadap
garis horizontal.
- Posisi puting depan (front teat placement)
Kedudukkan
puting susu dinilai dari belakang sapi. Puting susu yang baik memudahkan
proses pemerahan
- Panjang puting (teat length)
Sifat ini
ditujukan untuk mengevaluasi panjang puting. Ukur puting terpanjang
apabila panjangnya tidak sama.
Metode klasifikasi linier dapat membantu para peternak
untuk memperbaiki ternaknya ke arah produksi yang lebih baik, dengan jalan
memperbaiki bentuk luar dari keturunannya. Misalnya, seekor induk dengan
punggung yang jelek (nilai kurang dari 25) harus dicari pejantan unggul yang
mempunyai kelebihan dalam hal punggungnya. Dengan demikian, diharapkan
perbaikan atau koreksi terhadap bentuk punggung dari keturunannya.
Perkawinan ini sering disebut sebagai perkawinan koreksi (corrective mating). Dengan
jalan ini peternak dapat mengevaluasi kemajuan ternaknya, paling tidak biasanya
dilakukan setiap lima tahun sekali.
Untuk pejantan di luar negeri, sifat-sifat yang telah
dinilai melalui anaknya, kemu-dian digunakan untuk mencari nilai pemuliaan (breeding value) untuk setiap
sifat. Di dalam buku katalog pejantan (sire summary), nilai pemuliaan dari sifat-sifat tersebut
kemudian digambarkan dalam grafik, sehingga akan memudahkan pencarian pejantan
mana yang dikehendaki untuk memperbaiki bentuk luar sapi induk yang dimiliki
peternak.
thanks kka :)
BalasHapus